Eksekusi Pengosongan Bangunan Cucian Mobil Nyaris Ricuh

0
77

BengkuluKito.Com, – Eksekusi pengosongan bangunan tempat usaha cucian mobil di Jalan Pangeran Natadirja Kelurahan Jalan Gedang Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu, yang dilakukan juru sita Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu, nyaris berakhir ricuh, Rabu (10/3/2021).

Hal ini terjadi saat juru sita mulai membacakan putusan eksekusi, dan tergugat sekaligus pemilik usaha merasa tidak puas dengan putusan tersebut.

Juru sita Pengadilan Negeri Bengkulu, saat membacakan putusan eksekusi.

Eksekusi dilakukan karena tergugat Noni Lidya, dinilai telah melanggar kesepakatan kerja sama dengan Zamron Septiawan, yang merupakan pemohon dan ahli waris pemilik lahan tersebut.

“Menyatakan tergugat telah melakukan ingkar janji atas surat perjanjian kerja sama nomor 57 tertanggal 19 Juni 2007,” kata juru sita PN Bengkulu David Kurniawan, saat membacakan putusan eksekusi.

Dalam kesepakatan kerja sama itu, terang David, hasil dari usaha cucian mobil akan dibagi antara Noni Lidya dan Zamron.

Namun dalam proses sidang perdata, Hakim Pengadilan Negeri Bengkulu menilai kesepakatan itu tidak terlaksana.

“Menyatakan sah dan berharga sita jaminan oleh juru sita Pengadilan Negeri Bengkulu sebagai mana berita acara penyitaan nomor 50/PDT.G/2017/PNBKL tanggal 29 Maret 2018,” sampainya.

Sementara itu, Noni Lidya sang pemilik usaha sekaligus pihak tergugat mengaku tak mempermasalahkan proses eksekusi.

Namun ia meminta keadilan, karena nilai ganti rugi yang diputus hakim tak sebanding dengan modal yang sudah ia keluarkan untuk membangun usaha tersebut.

“Sampai sekarang uang ganti rugi saya belum ada terima, belum ada kata sepakat,” ungkapnya.

“Saya tidak menolak eksekusi, saya tidak menolak keputusan MA, tapi bayar dulu nilai investasi saya di sini,” tambah dia.

Noni juga mempertanyakan skema penghitungan nilai aset dan bangunan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).

“Saya kira KJPP ini menghitung berdasarkan nilai investasi di sini, tapi nyatanya tidak. KJPP menilai berdasarkan paradigma, ini hanya dinilai Rp. 400 juta. Saya membangunnya aja dahulu Rp. 400 juta,” jelas Noni.

Terkait uang hasil usaha yang dinilai tak terlaksana, Noni mengaku sudah berupaya dibayarkan kepada ahli waris. Namun selalu ditolak dengan berbagai alasan, hingga sengketa ini masuk ke pengadilan.

“Saya sewa dan membangun, dia terima sampai Agustus 2012. Mulai agustus 2012 itu dia tidak mau menerima uang sewa,” kata Noni.

Meskipun diwarnai aksi penolakan oleh tergugat, proses eksekusi pengosongan bangunan ini tetap berjalan.

Guna mengamankan jalannya eksekusi, aparat gabungan Polres Bengkulu dan Polsek Gading Cempaka disiagakan di lokasi. (Qi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here