Rosjonsyah Bantah Ambulance Bayar Rp 5 juta, Ini Faktanya

0
12

BengkuluKito.com, – Debat terbuka pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bengkulu 2020 malam kemarin, Jumat (4/12/2020) sempat heboh tentang ambulance bayar di RSUD M Yunus.

Calon Wakil Gubernur Bengkulu nomor 02, Rosjonsyah dibisikkan oleh Calon Gubernurnya (Rohidin-res) apa yang disampaikan Helmi Hasan adalah bohong dan menuding memberi informasi yang mengada-ada soal bayi meninggal yang keluarganya harus membayar Rp 5 juta jika memakai ambulance RSUD M Yunus.

Pernyataan Rosjonsyah itu bermula saat debat masuk sesi tanya jawab, Helmi Hasan menanyakan apa langkah Rosjonsyah menanggapi ambulance bayar yang menyusahkan rakyat, terutama bagi yang kurang mampu dan sempat membuat Indonesia geger dan mencoreng nama Provinsi Bengkulu.

Lantaran tahun 2017 lalu, terjadi peristiwa jenazah bayi Puti Putri warga Kabupaten Kaur, yang jasadnya terpaksa dimasukkan ke kantong plastik oleh orangtuanya.

Jasad bayi itu dibawa menggunakan mobil travel, dari RSUD M Yunus di Kota Bengkulu ke Kabupaten Kaur. Pemicunya, karena orangtua Puti Putri tidak sanggup untuk membayar ambulance rumah sakit.

Helmi Hasan di sesi tanya jawab itu, sempat menyampaikan informasi terbaru, Minggu (29/11/2020) lalu, kembali terjadi bayi meninggal dunia dari Kabupaten Kaur, yang ingin meminjam ambulance RSUD M Yunus, namun tidak jadi lantaran diminta bayaran hingga Rp 5 juta.

Saat Helmi Hasan melontarkan pertanyaan, tampak calon gubernur nomor 02, Rohidin Mersyah beberapakali berbisik ke calon Wakil Gubernurnya, Rosjonsyah. Jawaban Rosjonsyah pun cukup membuat heboh, lantaran ia mengatakan informasi itu bohong.

“Informasi bohong itu. Mengada-ada. Tidak ada berani pegawai mengambil begitu. Apalagi Rp 5 juta, dalam kondisi musibah. Pasti punya hati para medis itu. Dan Pergub kita sudah mengatur juga. Tidak ada sampai Rp 5 juta. Dari mana Rp 5 juta itu,” ucap Rosjonsyah yang sempat terlihat beberapakali dibisikkan Rohidin yang ada di belakangnya.

Bahkan, Rosjonsyah menegaskan, masalah musibah, jangan dipermainkan. “Yang namanya musibah jangan dipermainkan. M Yunus (RSUD M Yunus) itu sudah bagus pelayanannya. Jadi kalau pak Helmi mengatakan Rp 5 juta, dikit-dikit Rp 5 juta. Itu gak bener. Mereka (pegawai RSMY) punya gaji. Gak mungkin itu, gak bener,” tegas Rosjonsyah lagi.

Hasil Klarifikasi Yang Disampaikan Adalah Benar
Keesokan harinya awak media langsung ke keluarga bayi tersebut di Desa Muara Jaya Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, ternyata informasi yang disampaikan Helmi Hasan adalah benar adanya.

Ternyata, informasi yang disampaikan Helmi Hasan, terkonfirmasi langsung dari ibu bayi yang meninggal, Eliya Puspitasari.

“Meski pun Rp 1 juta, Rp 2 juta, namanya orang miskin, gak mungkin bisa bayar,” cerita Eliya saat ditemui wartawan di kediamannya.

Soal nilai Rp 5 juta, ungkap Eliya, itu nilai yang diperkirakan akan mereka keluarkan, jika memakai ambulance dari RSUD M Yunus, karena memperhitungkan jauhnya jarak dari Kota Bengkulu ke Kabupaten Kaur. “Kami pikir-pikir pasti mahal, paling gak Rp 5 juta gitu,” ucap Eliya.

Karena tidak mampu membayar Rp 5 juta, keluarga Eliya lalu menghubungi Pemkot Bengkulu, yang punya banyak ambulance gratis.

“Karena ada yang gratis, kami pilih yang gratis, untuk membawa bayi kami ke Kaur. Sampai di Kaur, kami tidak diminta bayaran apapun,” lanjut Eliya.

Pernyataan Eliya diperkuat sopir ambulance gratis dari Baznas Kota Bengkulu, yang membawa jenazah bayi itu ke Kaur, Herman.

“Iya, waktu kami mau jemput jenazah bayi itu di RSUD M Yunus, kami tanya apa ini bayi yang mau diantar ke Kaur yang katanya bayar Rp 5 juta. Keluarganya menjawab iya. Ya sudah, saya bilang saya diminta mengatar bayi itu ke Kaur gratis tanpa biaya apapun,” cerita Herman saat ditemui wartawan.

Terpisah, Kadis Kesehatan Kota, Susilawaty juga mengatakan, informasi awal soal Rp 5 juta itu langsung dari keluarga bayi yang meninggal.

“Jadi keluarganya menghubungi kami. Mereka cerita mau pinjam ambulance rumah sakit M Yunus, tapi diminta bayar Rp 5 juta. Jadi mereka mau pinjam ambulance kita.

Kami kirim ambulance gratis ke keluarga tersebut. Bahkan waktu minjam itu, kami didesak dan diminta cepat datang sama keluarganya,” ungkap Susilawaty.

Sementara Helmi Hasan, di setiap kesempatan terus menyatakan ambulance gratis itu dibutuhkan masyarakat hingga ke pedesaan.

Terkait insiden yang terjadi di RSUD M Yunus, baik itu tahun 2017 dan yang baru terjadi belakangan ini, menurut Helmi Hasan, itu bukan salah rumah sakit, dokter, perawat, maupun sopir ambulance RSUD M Yunus.

“Yang salah itu Pergub dan aturan yang mewajibkan ambulance RSUD M Yunus bayar. Itu kenapa, masyarakat kita yang di desa, terutama yang tidak mampu, jadi susah karena ambulance bayar itu,” ungkap Helmi.

Sehingga kedepan, Helmi Hasan jika dipercaya menjadi Gubernur Bengkulu, ia akan menggratiskan layanan ambulance seperti yang sudah dilakukannya di Kota Bengkulu.(CW1)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here