Partisipasi Pemilih Pemula dan Masa Depan Demokrasi dalam Pilkada Bengkulu

0
134

Oleh: Arie Elcaputera

Dalam beberapa waktu ke depan Indonesia segera memasuki fenomena bonus demografi, ditandai dengan peningkatan jumlah penduduk yang sangat besar sehingga penduduk produktif akan didominasi oleh generasi muda atau generasi milenial.

Generasi milenial merupakan modal utama dalam fenomena bonus demografi.

Di bidang politik, besarnya potensi generasi milenial yang dapat dimaksimalkan akan mampu meningkatkan partisipasi public dalam konstestasi politik, termasuk dalam pergelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia tahun 2020.

Pada 9 Desember mendatang, Provinsi Bengkulu akan melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak.

Pilkada Provinsi Bengkulu untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur, sedangkan di beberapa daerah juga akan dilaksanakan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.

Pemilihan kepala daerah secara konseptual merupakan sarana implementasi kedaulatan rakyat.

Melalui Pilkada, legitimasi kekuasaan rakyat diimplementasikan melalui penyerahan sebagian kekuasaan dan hak mereka kepada wakilnya yang terpilih dalam pemerintahan di tingkat daerah.

Proses transisi demokrasi di Indonesia berjalan dengan sangat pesat pasca amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Melalui perkembangan dalam bingkai politik ketatanegaraan yang ditandai dengan rumusan konstitusi dalam membentuk kerangka dasar bernegara, bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.

Atas dasar rumusan tersebut, maka suksesi kepemimpinan dalam cabang kekuasaan eksekutif dilaksanakan secara langsung untuk memilih pemimpin yang didambakan masyarakat dalam membangun daerah.

Demokrasi tidak hanya sekedar sebagai prosedur, melainkan juga sebagai seperangkat nilai yang menentukan bentuk dan berjalannya pemerintahan oleh rakyat.

Demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai normativitas aturan dan keputusan hukum, melainkan yang lebih penting adalah kesesuaiannya dengan kehendak dan rasa keadilan rakyat banyak.

Di setiap negara dan setiap pemerintahan modern pada akhirnya berbicara tentang rakyat.

Rakyat menjadi titik sentral, karena rakyat di suatu negara adalah pemegang kedaulatan yang bersumber dari kekuasaan.

Dalam konsep demokrasi suara rakyat adalah suara tuhan (vox populi vox dei), lebih dari itu suara rakyat kemudian dimaknai pula sebagai hukum tertinggi (vox populi suprema lex).

Momentum Pemilihan Kepala Daerah serentak tahun 2020 ini menjadi sebuah prosesi berdemokrasi di Provinsi Bengkulu pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur maupun Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.

Di Provinsi Bengkulu berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), Daftar Pemilih Tetap (DPT) yaitu sebanyak 1.374.430.

Di mana terdapat Pemilih Pemula dari kaum milenial sebanyak 494.794 atau sekitar 36% dari total DPT se-Provinsi Bengkulu yang tersebar di 10 Kabupaten Kota.

Jumlah Pemilih Pemula Kaum Milenial sebanyak 36% ini mengalami peningkatan dari Pilkada tahun 2015 lalu berkisar 20% pemilih pemula.

Dari jumlah pemilih 36% tersebut, terbanyak pada Pemilih Pemula dari Kaum Milenial yang berada di Kota Bengkulu yaitu sebanyak 13.001 mata pilih.

Pemilih Pemula dari kelompok milenial merupakan pemilih potensial. Kelompok ini akan menjadi rebutan dalam mendulang suara bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur maupun Bupati dan Wakil Bupati.

Hal ini ditandai degan besarnya kekuatan elektoral mayoritas pemilih pemula dari kaum milenial yang sangat dominan dan berdampak luar biasa dalam memenuhi target partisipasi pemilihan dalam Pilkada serentak 2020.

Hal ini juga menentukan kualitas partisipasi elektoral yang berkorelasi pada pematangan demokrasi di Provinsi Bengkulu.

Maka, harapan menjadi negara demokrasi penuh (full democracy state) berada di tangan Kaum Milenial. Sehingga menjadi suatu kewajiban untuk menumbuhkan sebesar-besarnya partisipasi politik.

Karena di negara-negara yang menganut sistem demokrasi, semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat maka akan lebih baik.

Sebaliknya, tingkat partisipasi yang rendah akan dianggap sebagai hal yang kurang baik, karena menunjukkan banyak warga negara tidak menaruh perhatian serius terhadap permasalahan kenegaraan dan hal tersebut tentu menunjukkan legitimasi yang rendah.

Namun demikian, partisipasi publik yang tinggi dapat bermuatan positif apabila partisipasi tersebut menciptakan ruang diskusi deliberatif yang menggunakan perang ide dan gagasan antar kubu yang bertarung.

Maka di sinilah letak sebenarnya kaum milenial dalam proses demokrasi.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) di Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, terdapat ciri dan karakter dari Generasi Milenial terutama di wilayah perkotaan.

Yaitu, Percaya Diri (confidence); Generasi Milenial adalah orang yang sangat percaya diri, berani atau secara ekpresif mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik.

Kedua, Kreatif (creative); Generasi Milenial adalah orang yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan, serta mampu mengomunikasikan ide dan gagasan itu dengan cemerlang.

Ketiga, Terhubung (connected); yaitu pribadi-pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti.

Selain itu juga, generasi milenial juga aktif berselancar di media sosial dan internet, mereka disebut juga always-on generation yang memiliki tingkat sosiabilitas yang tinggi bahkan medsoc addict.

Selain karakteristik tersebut, generasi milenial juga kritis (critical). Selain kebebasan politik yang sangat mendukung, sikap politik kritis millenial tersebut didukung oleh rasionalitas dan keberanian politik yang dapat diandalkan.

Tentunya rasionalitas politik tersebut didukung oleh literasi politik yang memadai, karena mereka rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang baik.

Oleh karena itu mereka secara terbuka dapat mengkritik gaya kampanye para kontestan elector.

Keberadaan Pemilih Pemula dari generasi milenial pada Pilkada Provinsi Bengkulu dalam menyambut tahun politik akan sangat berharga bagi kualitas demokrasi dan kondisi perpolitikan di daerah.

Namun, apabila tidak dikelola dengan baik maka akan memantik suhu perpolitikan menjadi tinggi. Karena dengan bekal kemampuan teknologi, generasi ini bisa membuat pergerakan yang masif dalam hal positif maupun negatif dengan sama baiknya.

Survey Centre for Strategic and International Studies (CSIS) 2017 menunjukan, dalam konteks perilaku pemilih, kelompok ini tergolong jenis pemilih rasional yang kritis.

Sebagian besar dari mereka adalah pengguna media sosial dan melek informasi.

Sebanyak 81,7 persen generasi milenial pengguna Facebook, 70,3 persen menggunakan WhatsApp, dan 54,7 persen memiliki Instagram.

Kedekatan generasi milenial dengan teknologi, akan berdampak terhadap pilihan politik mereka. Karena cara-cara tradisional dalam menuangkan gagasan tidak akan lagi digunakan tetapi lebih memanfaatkan teknologi.

Kultur yang terdidik dan pemikiran terbuka (open minded) dengan dukungan teknologi menjadi tren global generasi pemilih pemula dalam menentukan masa depan demokrasi di Provinsi Bengkulu.

Penulis adalah Staff Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Bengkulu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here