Kerugian Negara 10 Miliar, Berkas 3 Tsk Dugaan Korupsi IAIN Curup Dilimpahkan ke Kejati

0
63

BengkuluKito.Com, –  Berkas tiga tersangka dugaan korupsi Pembangunan Gedung Akademik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Kabupaten Rejang Lebong 2018, resmi dilimpahkan ke penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu.

Pelimpahan berkas ini usai dilakukan pemerikasaan terhadap para tersangka oleh penyidik Subdit Tipikor Direktorat Reserse Khusus Polda Bengkulu, Senin (9/11/2020).

Tiga orang tersangka yang ditetapkan diantaranya BG selaku PPTK, BH selaku kontraktor atau pemborong dan EN selaku pemodal.

Dikatakan Kasubdit Tipikor Polda Bengkulu, Kompol Imam Wijayanto, berkas masing-masing tiga orang tersangka tahap pertama korupsi IAIN Curup telah di serahkan ke Kejati Bengkulu.

“Ya, jadi harapan kita semoga penyerahan berkas perkara ini lengkap dan selesai tanpa bolak-balik lagi dan selanjutnya kita menunggu petunjuk dari pihak Kejati selama 14 (hari) mudah-mudahan berkas perkara lengkap,” ujar Imam.

Ia menerangkan, berdasarkan pantauan yang telah dicek Penyidik Subdit Tipikor pihaknya telah mengantongi kerugian negara dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Bengkulu.

“Kerugian negara yang ditimbulkan dari dugaan korupsi pembangunan gedung tersebut Rp. 10 miliar,” terangnya, dilansir dari tribratanewsbengkulu.com

Imam menuturkan, total anggaran proyek pembangunan gedung itu senilai Rp. 28 miliar dan dilaksanakan pada tahun 2018, dengan sumber dana dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Kemenag RI.

Karena pekerjaannya diduga bermasalah, sambung Imam, proyek diputus kontrak.

“Dari pekerjaan yang diputus kontrak tersebut nilainya Rp. 10 miliar, kerugian negara berdasarkan audit Rp. 10 miliar,” ungkap dia.

“Tiga orang tersangka yang ditetapkan memiliki peran paling besar dan paling bertanggung jawab dengan korupsi tersebut,” tambahnya.

Terhimpun, pembangunan gedung akademik tersebut dilaksanakan berdasarkan kontrak pada Agustus 2018 dan selesai pada 31 Desember 2018 atau 114 hari kalender.

Akan tetapi, pekerjaannya diduga bermasalah sehingga akhir 2018 proyek tidak selesai.

Sempat diberi tambahan waktu sampai 40 hari, tetapi proyek tidak juga selesai sehingga pada Februari 2019, proyek diputus kontrak.

Kerugian negara dalam proyek tersebut, diduga terjadi mark up dalam pekerjaan fisik, sehingga proyek tersebut bermasalah. (JR)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here