Perkembangan Asuransi Jiwa Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

0
83

Oleh: Syukron Mahal Farawansa

Diskursus mengenai perkembangan asuransi jiwa di Indonesia sangat menarik untuk dibahas, pasalnya sektor keuangan merupakan motor penggerak perekonomian di suatu negara.

Hal ini disebabkan peran sektor keuangan sebagai penyalur dari pihak yang kelebihan kepada pihak yang kekurangan dana, sehingga berdampak pada kinerja perekonomian (Mishkin, 2004: 7).

Apabila sektor keuangan berfungsi dengan baik, maka dana yang tidak terpakai pada pihak yang kelebihan dana dapat dikurangi, sedangkan kebutuhan investasi atau konsumsi dari pihak yang kekurangan dana dapat dipenuhi.

Salah satu industri lembaga keuangan non bank yang berperan penting dalam sistem keuangan Indonesia adalah asuransi.

Asuransi jiwa sendiri terbagi atas beberapa jenis, diantaranya Asuransi Jiwa Berjangka (Term Life Insurance).

Sesuai namanya, jenis asuransi jiwa ini memberikan proteksi kepada pemegang polis dalam kurun waktu tertentu.

Sistem pertanggungan yang digunakan memiliki masa berlaku. Lama waktu yang ditetapkan di sini mulai dari 5 tahun, 10 tahun atau 20 tahun, sesuai dengan penawaran yang diberikan oleh perusahaan asuransi.

Karena adanya masa kontrak yang tidak berlaku lagi setelah jatuh tempo, maka asuransi jiwa berjangka tergolong paling terjangkau.

Kisaran biaya preminya saja hanya Rp 250.000 per bulan.

Meski murah, tapi pertanggungan yang diperoleh tak perlu diragukan jumlahnya, tetap banyak bahkan bisa mencapai miliaran rupiah.

Kekurangannya, premi yang telah dibayarkan bisa hangus jika tidak ada klaim selama polis asuransi masih berlaku.

Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life Insurance), tidak seperti asuransi jiwa berjangka yang memiliki masa berlaku, Asuransi Jiwa Seumur Hidup atau Whole Life Insurance memberi proteksi kepada pemegang polis seumur hidup.

Seumur hidup yang dimaksud ialah 99 tahun atau 100 tahun.

Mengapa angka tersebut dikatakan seumur hidup? Menurut Badan Pusat Statistik, angka harapan hidup penduduk Indonesia rata-rata 70 tahun.

Asuransi Jiwa Seumur Hidup ini akan mengembalikan total premi yang telah dibayarkan dengan bunga sebanyak 4 persen per tahun.

Bila dikalkulasikan, jumlah ini tidak banyak apalagi dengan adanya pemotongan pajak.

Namun keuntungannya, premi asuransi tidak akan hangus ketika tidak ada klaim, sehingga dapat diambil secara keseluruhan apabila masa kontrak berakhir.

Untuk mendapat semua kelebihan tersebut, tentu ada harga yang harus dibayar lebih, yaitu uang premi yang jauh lebih tinggi dari pada asuransi jiwa berjangka.

Asuransi Jiwa Dwiguna (Endowment Insurance), asuransi jiwa ini menawarkan 2 keuntungan. Dengan kata lain, ada kolaborasi manfaat antara asuransi berjangka dan tabungan untuk pendidikan anak dan dana pensiun.

Tak sedikit orang tua yang tertarik akan asuransi demi bisa menyiapkan biaya sekolah anak atau menjamin kelangsungan hidupnya, meskipun anda sudah pensiun nanti.

Hal lain yang menguntungkan dan berbeda dengan asuransi jiwa berjangka adalah manfaat hidup yang didapatkan oleh pemegang polis.

Apabila Anda sebagai tertanggung masih hidup saat polis jatuh tempo, maka uang pertanggungan akan diberikan oleh perusahaan asuransi.

Masa berlakunya beragam, mulai dari 10 tahun sampai usia tertentu, misalnya 60 tahun.

Asuransi Jiwa Unit Link (Unit Linked Insurance), asuransi jiwa unit link yang bisa dibilang merupakan primadona di industrinya sendiri. Menggabungkan investasi dengan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan.

Jenis asuransi ini sangat cocok untuk anda yang tertarik dengan investasi sekaligus ingin tetap mendapat proteksi jiwa dan kesehatan.

Investasi dalam asuransi unit link ini digerakkan oleh perusahaan asuransi sehingga pemegang polis hanya duduk manis dan mendapat laporan setiap bulan tentang nilai investasinya. Akan tetapi, keuntungan atau kerugian investasi tetap ditanggung oleh anda.

Porsi premi pada umumnya, 20 persen untuk investasi dan 80 persen sisanya ditujukan bagi jaminan asuransi jiwa nasabah.

Sayangnya, hasil investasi baru dapat dinikmati di tahun kelima karena sudah tidak ada premi yang harus dibayarkan lagi.

Tingkat kesadaran untuk memiliki produk ini mungkin masih rendah di Indonesia. Berbeda dengan negara maju seperti di Jepang, dimana hampir seluruh penduduknya terutama yang berusia produktif sudah memiliki polis asuransi jiwa.

Industri asuransi memiliki pangsa pasar kedua terbesar setelah perbankan dan merupakan pemegang pangsa pasar terbesar dalam industri lembaga keuangan non bank (Bank Indonesia, 2010: 23).

Namun, kontribusi industri asuransi pada perekonomian Indonesia masih tergolong rendah.

Kontribusi premi bruto industri asuransi hingga tahun 2009 masih di bawah 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, di negara-negara tetangga, kontribusi premi bruto industri asuransi sudah lebih dari 19 persen terhadap PDB.

Misalnya, di Malaysia 19,5 persen dan Singapura 49,8 persen dari PDB (Bank Dunia, 2005).

Industri asuransi jiwa memiliki rata-rata pertumbuhan premi bruto tertinggi selama tahun 2005-2009, yaitu 29,96 persen, selain menjadi kontributor terbesar (57,99 persen pada tahun 2009).

Pertumbuhan industri asuransi jiwa diikuti oleh asuransi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dengan rata-rata pertumbuhan premi bruto 23,27 persen.

Selanjutnya asuransi sosial dan Jamsostek dengan rata-rata pertumbuhan premi bruto 21,66 persen, serta asuransi kerugian dan reasuransi dengan rata-rata pertumbuhan premi bruto 15,58 persen.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pertumbuhan industri asuransi jiwa nasional meningkat 14,7% dari Rp149,87 triliun di kuartal III-2018 menjadi Rp171,83 triliun di kuartal III-2019.

Kinerja industri asuransi jiwa terserbut dihimpun dari 59 perusahaan dari 60 total anggota.

Kinerja kuartal III-2019 juga menunjukkan peningkatan jumlah tertanggung dan polis yang merefleksikan kontribusi dari hasil atas upaya sosialisasi dalam meningkatkan pemahaman atas pentingnya asuransi dan mendorong inklusi dalam industri asuransi.

Sejalan dengan pentingnya peran sumber daya manusia dan komitmen industri asuransi, data juga mencatat meningkatnya jumlah tenaga pemasar yang berlisensi sebagai bagian dari program pengembangan kapasitas industri secara terus menerus.

 

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Hukum Administrasi & Ketatanegaraan
Fakultas Hukum Universitas Bengkulu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here