Trend Pemuda dan Pelestarian ‘Syarofal Anam’

0
322

Oleh: P. Rahmat Hidayat

Syarofal Anam merupakan adat dan seni budaya melayu yang bernafaskan islami, yang masih bertahan sampai saat ini termasuk di wilayah Provinsi Bengkulu.

Terdiri dari beberapa orang yang terbentuk dalam sebuah kelompok, masing-masing orang memegang alat musik yang terbuat dari kulit hewan berupa rebana dengan peran dan tekhnik pukulan yang berbeda beda.

Sehingga membentuk irama yang enak untuk didengar serta diiringi lantunan nyanyian berupa shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Di era 90-an ke bawah sangat mudah untuk menemukan kebudayaan ini, hampir di setiap minggu di berbagai sudut wilayah Kota Bengkulu terdengar riuh suara indah dari pemain Syarofal Anam.

Bahkan tidak heran, dalam satu desa ada dua kelompok yang terdengar saling bersautan karena ada dua acara pernikahan yang kebetulan dilaksanakan pada waktu bersamaan.

Pada era itu, kebudayaan ini merupakan salah satu acara yang wajib dilaksanakan dalam prosesi acara pernikahan secara adat. Kalau tidak melaksanakan kebudayaan ini, maka si pemilik hajat bisa saja mendapatkan penilaian yang berbeda dari masyarakat adat maupun umum.

Masa itu, Syarofal Anam menjadi trend bagi anak muda pada umumnya. Bukan hanya pribumi, bahkan masyarakat pendatang pun jadi tertarik untuk ikut bergabung ke dalam kelompok Syarofal Anam.

Mereka akan sangat bersemangat dan bangga jika bisa ikut bergabung dan berperan aktif dalam kelompok Syarofal Anam, bahkan tercipta aura persaingan yang positif untuk bisa jadi yang terbaik dalam memainkan alat musik yang mereka pegang.

Semangat itu mendorong terciptanya kelompok-kelompok baru, gerakan dalam permainan alat musik semakin beragam dan semakin kompak. Irama permainannya pun berkembang pesat menjadi semakin indah untuk didengarkan khalayak umum.

Tak ayal, Syarofal Anam menjadi gengsi tersendiri di kalangan mereka kala itu. Apabila bisa bergabung, mereka akan mendapatkan nilai plus dan keistimewaan tersendiri dari pandangan masyarakat adat dan masyarakat umum di wilayah mereka tinggal.

Sungguh indah suasana yang tercipta kala itu, semangat kebersamaan sangat kental di masyarakat. Hal ini mempengaruhi semua aspek kehidupan, semangat gotong royong pun tumbuh subur di tengah-tengah kehidupan masyarakat, pun persatuan dan kesatuan terjaga kuat.

Namun, memasuki era tahun 2000-an semangat itu semakin hilang secara perlahan dan terus-menerus tergerus oleh pengaruh perkembangan zaman.

Trend anak muda sudah mulai beralih ke arah perkembangan teknologi dan pengaruh kebudayaan luar. Kaum muda lebih menyukai hal-hal baru, berkumpul dan bernyanyi musik modern bahkan mereka mulai mengenal dan mengonsumsi narkotika.

Banyak kaum muda yang hanyut dan terjebak dalam pengaruh perkembangan zaman, hal ini menjadi salah satu alasan cepatnya kebudayaan lokal hilang tanpa bisa dihentikan.

Tertanam stigma negatif difikiran mereka, ikut serta dalam Syarofal Anam menjadi hal yang aneh dan tabu untuk mereka lakukan, ‘tidak gaul’ ‘kampungan’ istilah yang berkembang di kalangan kaum muda.

Stigma ini terus berkembang di masyarakat dan menjadi pengaruh yang buruk pada pelestarian kebudayaan. Membuat mereka menjauh dan meninggalkan kebudayaan yang selama ini telah dijaga secara turun-temurun oleh generasi di atas mereka.

Menumbuhkan egoisme dan memberikan pengaruh buruk sehingga membuat perpecahan di masyarakat bahkan membuat individualisme berkembang dengan sangat pesat.

Berdampak pula pada hilangnya semangat kebersamaan dan gotong-royong yang selama ini telah terjaga baik di tengah masyarakat.

Fenomena ini akan berakibat buruk pada pelestarian kebudayaan Syarofal Anam, secara perlahan kebudayaan ini akan hilang dimakan waktu dan bisa jadi hanya akan menjadi kisah di dalam buku sejarah.

Maka dari itu, harus ada usaha untuk tetap menjaga dan melestarikan seni budaya ini. Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan, termasuk peran aktif pemerintahan daerah dalam usaha melestarikan seni budaya daerah.

Dalam ruang lingkup masyarakat adat, mereka sudah melakukan usaha pelestarian dengan mengadakan latihan rutin setiap minggu.

Seperti yang dilakukan Kelurahan Pagar Dewa Kecamatan Selebar Kota Bengkulu, Mereka mengadakan latihan setiap malam Senin dan dilakukan sebanyak dua kali dalam 1 bulan.

Namun hal itu dirasa tidak akan cukup, karena yang berkecimpung dalam kegiatan tersebut saat ini mayoritas adalah generasi terdahulu dengan kisaran umur 45 tahun ke atas. Hanya segelintir kaum muda yang ikut tergabung di sana.

Kegiatan itu pun dilaksanakan berdasarkan kesadaran dan semangat dari tiap-tiap anggota tanpa dukungan yang jelas dari pemerintah.

Apabila hal ini dibiarkan tanpa adanya usaha pelestarian dan kaderisasi kepada kaum muda sebagai penerus, kebudayaan ini perlahan akan hilang karena penggiatnya akan terus berkurang waktu demi waktu.

Peran aktif pemerintah akan sangat berpengaruh dalam usaha pelestarian kebudayaan ini.

Pemerintah bisa mengambil langkah seperti memberikan dukungan berupa alat, pelatihan, biaya pembinaan, menyediakan wadah atau mengadakan perlombaan yang dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya secara meriah.

Selain bisa menjadi daya tarik wisata yang juga akan berdampak pada perkembangan ekonomi daerah, hal ini juga akan memacu para pelaku seni budaya untuk terus berkembang dan mendorong terciptanya kelompok-kelompok baru Syarofal Anam.

Semakin banyak kelompok yang terbentuk, maka semakin terjaga kelestariannya.

Semangat kaum muda untuk ikut serta melestarikan kebudayaan pun akan bangkit kembali. Bahkan, langkah ini bisa saja membuat Syarofal Anam kembali menjadi sebuah trend di kalangan anak muda.

Sehingga mereka mampu menangkis pengaruh buruk dari perkembangan teknologi dan budaya luar, terutama pada buruknya pengaruh narkotika.

Harapannya adalah kebudayaan ini akan terus ada dan terlestarikan di masa depan. Semangat itu terus terjaga berkat peran masyarakat dan tidak lepas oleh peran aktif pemerintah daerah.

Dampak positif lainnya, semangat kebersamaan dan gotong royong akan tumbuh kembali di tengah- tengah masyarakat yang akan menguatkan rasa persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara. Rakyat kuat negara pun akan kuat.

 

Penulis adalah Ketua Karang Taruna Depati Payung Negara Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here