Penerima Program Sembako Capai 15,2 Juta Keluarga, Mensos RI: Ini Sudah Turun Lho

0
80

BengkuluKito. Com, – Menteri Sosial Republik Indonesia (Mensos RI), Juliari P. Batubara, menyebut tahun 2020 ini, penerima program Sembako di Indonesia mencapai 15,2 juta keluarga, Senin (2/3/2020).

Menteri Sosial RI, Juliari P. Batubara dan Bupati Mian, bersama masyarakat penerima program sosial.

“Ini sudah turun lho, dari 15,6 tahun lalu, tahun ini 15,2. Saya nurunkan 400 ribu keluarga,” ucapnya, saat digelar ‘Launching Program Bantuan Sembako dan Pemberdayaan Sosial lainnya’, di Balai Daerah, Kabupaten Bengkulu Utara.

Juliari mengatakan, penerima manfaat tahun ini untuk program Sembako 15,2 juta keluarga.

“Saya harapkan, tadi juga ada pak Bupati (Mian) dan Anggota DPR Komisi IX (Elva Hartati) bahwa kita harapkan juga dari Kementerian Sosial agar bahan-bahan makanannya itu yang lokal. Sehingga, juga ada pergerakan ekonomi lokal,” sampainya.

“Misal di situ saya nambahkan daging ayam atau daging ikan, kalau daerah itu misalkan penghasil ikan ya daging ikan. Kalau nggak ada ikan, misal di situ ada ayam ya daging ayam. Jadi, ini sangat kami harapkan supaya kearifan lokalnya juga dijalankan,” tambah Juliari.

Terkait pengentasan masalah sosial? Juliari menjawab, kehidupan di Bengkulu Utara ini khususnya, harus rukun. Tidak boleh ada pertentangan-pertentangan yang terlalu menyulut konflik-konflik sosial. Itu sangat besar peran dari pada pemerintah kabupaten, sehingga kehidupannya tenang, rukun, damai, tentram.

“Tentunya kami juga ada pekerja-pekerja sosial, pendamping-pendamping (sosial) yang bisa membantu pemerintah daerah,” ujarnya.

Terkait kenaikan bantuan program sembako dari 150 ribu ke 200 ribu? Terang Juliari, yang mendasari kenaikan ini sebagai antisipasi instruksi presiden dampak dari pada perlambatan ekonomi global.

“Oleh karena itu pemerintah, bapak Presiden menyadari situasi yang ada, karena itu kami diperintahkan agar menaikkan besaran dari Rp. 150 ribu menjadi 200 ribu untuk periode enam bulan ini dulu ya,” tuturnya.

“Kalau ternyata enam bulan ini ekonomi membaik, kita tidak teruskan. Tetapi kalau ternyata ekonomi kita masih mengalami perlambatan akibat dari dampaknya, terus terung virus corona ini, kita akan teruskan,” ungkapnya.

“Oleh karena itu, yang paling utama tujuannya adalah agar konsumsi rakyat lapisan terbawah tidak terlalu terdampak apabila ada perlambatan atau kontraksi di ekonomi kita,” tandasnya. (JR)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here