Mahasiswa dan Aksi Demonstrasi

0
359

Oleh : Ricki Pratama Putra

Sejarah mencatat, keberlangsungan negara itu tak luput dari peran seorang pemuda. Baik sebelum kemerdekaan atau pun sesudahnya.

Peran itu terbukti dengan coretan tinta emas yang ditorehkan para pemuda (mahasiswa) di negeri ini, keterjajahan mereka jawab dengan kemerdekaan, orde lama diganti orde baru, termasuk orde baru diganti reformasi.

Sehingga, dilekatkanlah atribut-atribut sosial kepada mahasiswa seperti agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen sosial kontrol) dan lainnya.

Mahasiswa dengan sikap kepemudaannya, keberaniannya, sikap kritis, dan intelektualitasnya mampu melakukan pergerakan yang bisa menjaga dan meneruskan marwah gerakan para pendahulunya.

Hal ini dapat dilihat dengan masih adanya sekelompok mahasiswa yang memperjuangkan nasib rakyat, meskipun dengan cara lama seperti para pendahulu, yakni demonstrasi.

Ada banyak hal yang mendasari terjadinya demonstrasi, mulai dari permasalahan internal kampus, hingga urusan berbangsa dan bernegara.

Tak ada yang salah dengan turun ke jalan atau demonstrasi, saya pun begitu bersemangat untuk terus turun ke jalan menyuarakan keadilan dan kebenaran.

Memang apa yang lebih puitis dan indah kecuali berbicara soal kebenaran?

Namun belakangan, gerakan demonstrasi atau aksi turun ke jalan yang dilakukan mahasiswa banyak terjadi kericuhan. Bahkan mengakibatkan jatuhnya korban baik dari pihak mahasiswa maupun pengamanan.

Sehingga, sering kali aksi mahasiswa disamakan dengan gerakan premanisme yang akhirnya mengancam wibawa mahasiswa sebagai seorang intelektual.

Hal – hal seperti ini perlu kita renungi, wibawa mahasiswa tak boleh hancur dan runtuh dengan gerakan-gerakan yang serampangan dan berujung pada kericuhan dan anarkisme.

Bukankah turun ke jalan merupakan panggilan dan tanggung jawab moral seorang mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran? Akan tetapi, menjadi kecacatan moral apabila kericuhan itu terjadi dalam gerakan mahasiswa.

Maka dari itu, banyak hal yang harus kembali didiskusikan dan diperbaharui mengenai pergerakkan mahasiswa agar tak lagi dilabelling sebagai gerakan premanisme, anarkisme dan arogan.

Kita wajib menyamakan persepsi dan mereorientasi tujuan gerakan mahasiswa secara bersama-sama.

Sebuah gerakan yang bertujuan mengupayakan tatanan masyarakat agar lebih berperikemanusiaan dan rasional, serta bertanggung jawab memperbaiki nasib bangsa Indonesia dalam berdemokrasi.

Tentu, hal itu harus ditempuh dengan jalan-jalan advokasi yang benar dan berkualitas. Karena, perubahan sosial itu tak akan tercapai dengan mekanisme gerakan hit and run mahasiswa yang dengan sekali dua kali demo selesai tanpa adanya kontinuitas.

Gerakan mahasiswa, seolah-olah menjadi gerakan murahan dan bersifat formalitas sebagai momen mengingat detik-detik penting ibu pertiwi. Hal inilah yang membuat kualitas advokasi mahasiswa itu terpuruk.

Mahasiswa sudah seharusnya melakukan pembaharuan pola gerakan. Gerakan perlawanan tersebut sudah harus dikombinasikan dengan gerakan yang membangun dalam mengatasi permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.

Mahasiswa harus mampu melakukan advokasi pemberdayaan dan menciptakan agenda-agenda yang membumi dan berkontribusi banyak secara berkelanjutan, minimal di lingkungan sekitarnya.

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bengkulu. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here