Serap Aspirasi, Warga Muara Bangkahulu Minta Kejelasan Batas Kota dan Benteng

0
187

BengkuluKito.Com, – Ketua RT 22 Kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muara Bangkahulu, Edy meminta kejelasan batas antara Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) yang berada di wilayah perumahan Griya Azhara.

Peserta reses anggota Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring.

Hal tersebut disampaikannya saat digelar reses dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat Dapil Kota Bengkulu Masa Persidangan ke-III Tahun Sidang 2019, salah satu anggota Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring.

Dikatakan Edy, mewakili RT 22 dirinya menyampaikan aspirasi, pertama karena wilayahnya itu adalah wilayah batas di Kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muara Bangkahulu, tepatnya di perumahan Griya Azhara yang kebetulan batas tanah antara Benteng dan Kota Bengkulu.

“Nah, jujur pak dengan adanya ini kita masih ada keraguan dari masyarakat sana bahwa ini ada yang masuk Benteng ada yang masuk kota pak. Maka itu kita minta kejelasan dari pak Usin memperjuangkan aspirasi kami memperjelas batasnya mana pak. Apa kita masuk kota atau masuk Benteng,” ungkapnya, Kamis (31/10/2019) di Sukamerindu.

Kedua, lanjut Edy, itu masalah pembangunan. Di situ ada RT 22 dan 26, dengan adanya permasalahan batas ini pembangunan itu terhambat.

“Masih ada keraguan ini masuk kota atau Benteng, salah satunya itu permasalahan dengan jalan dan lampu jalan yang belum jelas,” ucapnya.

“Selanjutnya, karena ini di wilayah kota, untuk wilayah kita masuk gerbang itu kan sangat gelap di jalan poros. Nah, kita minta usulan kepada pak Usin selaku anggota DPRD Provinsi Bengkulu terutama Dapil kota, kita minta kalau bisa untuk gerbang masuk itu dikasih lampu jalan pak, supaya bisa terang dan gerbang kita bisa kelihatan kalau kita masuk itu pak,” bebernya.

Menanggapi hal tersebut, Usin menjelaskan bahwa permasalahan itu harus dilakukan disinkronisasi.

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring usai menggelar reses.

“Ya itu harus disinkronkan batas-batas daerah dan dilakukan program perapatan tapal batas, yang tadinya batas satu kilometer antara jarak yang satu dengan yang lainnya, dirapatkan kembali bisa menjadi 100 atau 50 meter. Jadi itu yang disebut dengan program perapatan tapal batas,” jelasnya, yang juga politisi Partai Hanura. (JR)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here