Reses, Pemilik Warung Keluhkan Keberadaan Indomaret dan Alfamart

0
168

BengkuluKito.Com, – Warga Jalan Zainul Arifin RT 9 RW 03 Kelurahan Padang Nangka Kecamatan Singaran Pati, Abdullah Pulungan, sebagai salah satu pemilik warung mengeluhkan keberadaan Indomaret dan Alfamart yang semakin menjamur.

“Kami cuma sekedar menyampaikan masalah Alfamart dan Indomaret, karena saya profesinya berwarung. Itu sangat menyengsarakan orang berwarung di Kota Bengkulu ini,” keluhnya, saat digelar reses penyerapan aspirasi masyarakat oleh Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, di Jalan Kapuas Raya.

Sehingga, sambung Pulungan, saat pertama kali Indomaret dan Alfamart masuk ke Kota Bengkulu ini, sempat orang Medan orang Batak berkumpul bagaimana caranya agar izin di kota ini jangan dikasih.

“Tapi nampaknya bukan seperti itu, malahan tambah banyak. Jadi, boleh kita cek ke tempat Alfamart dan Indomaret yang ada warung-warung kecil di barisan (sekitar) itu, bisa dikatakan mati. Kecuali warung-warung yang masuk pedalaman. Itulah yang sedang hidup sekarang,” bebernya.

“Alhamdulillah warung saya masih di pedalaman yaitu pas di depan SMPN 14 Kota Bengkulu. Alhamdulillah masih hidup sampai kini. Tapi saya kasihan melihat kawan-kawan yang lain, banyak yang dirugikan,” tambahnya, Kamis (31/12019).

Pulungan mengungkapkan, pihaknya berharap kepada anggota dewan untuk mencari solusi bagaimana caranya ‘tepung jangan tumpah, jarum jangan sampai patah’.

Menanggapi keluhan tersebut, Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring mengatakan berkenaan dengan Indomaret dan Alfamart itu sebetulnya gurita ekonomi.

Gurita produk yang dikuasai oleh satu perusahaan, dan itu selalu bertempur dengan Alfamart.

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring saat menggelar reses bersama warga Kecamatan Singaran Pati.

“Itu memang perkelahian dua gajah, yang matinya semut. Semutnya siapa, yaitu warung,” ucapnya.

Tapi jangan kawatir, kata Usin, sebentar lagi mereka akan mati. Karena apa, karena dunia digital. Mereka yang ritel-ritel seperti itu akan sendirinya ditinggalkan konsumen.

“Contoh dulu Giant di Mega Mall, sekarang ada Hypermart. Itu nggak boleh buka cabang di kelurahan-kelurahan, dan hampir bangkrut. Kenapa? Karena sekarang dengan handphone sudah bisa mesan baju, bisa mesan makanan,” sampainya.

Mereka itu punya izin terpusat, lanjut Usin, mereka itu punya izin yang disebut dengan perusahaan ritel.

“Kami juga tidak bisa menolaknya, paling-paling kami hanya mengeluarkan HO nya, rekomendasinya,” tandas Usin yang sebelumnya berprofesi sebagai advokat. (JR)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here