Mengenal ‘Alat Sensor Peringatan Dini Bencana Kebakaran Hutan’ dari Kota Baubau Sultra

0
411

BengkuluKito.Com, – Bencana Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia, dalam beberapa minggu terakhir sedang hangat diperbincangkan. Sebab, dampak dari Karhutla tersebut menyebabkan beberapa warga terserang penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Guna mencegah kejadian tersebut, salah satu hasil karya Gelar Teknologi Tepat Guna (GTTG) ke XXI di Bengkulu menampilkan ‘Sistem Peringatan Dini Bencana Kebakaran Hutan’ yang berasal dari Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Disampaikan Muhamad Iradat Achmad dari Workshop Teknologi Informasi “IR” Kota Baubau Sultra, alat ini bernama sistem peringatan dini bencana kebakaran hutan.

Sistem bekerja menggunakan sensor-sensor untuk mendeteksi potensi terjadinya kebakaran.

Muhamad Iradat Achmad saat menunjukkan alat monitoring sensor peringatan dini bencana kebakaran hutan.
Alat sensor Sistem Peringatan Dini Bencana Kebakaran Hutan dari Kota Baubau Sultra.

Sensor yang digunakan ada empat, yaitu sensor suhu dan kelembapan, sensor asap dan sensor titik api.

“Nah, dipilihnya sensor itu berdasarkan pertimbangan logika kejadian kebakaran hutan, yaitu suhu meningkat, kelembapan menurun, muncul asap, dan timbul titik api,” ucapnya, Minggu (22/9/2019), di lokasi GTTG Sport Center Pantai Panjang Kota Bengkulu.

Sensor ini akan membaca lingkungan di hutan, lalu hasil bacaannya akan diolah oleh otaknya atau microkontroller. Kemudian, dibandingkan dengan ambang yang diperoleh dari kalibrasi.

Kalau itu hasil pengolahannya ada potensi terjadi kebakaran hutan, maka akan memicu sirine berbunyi memberi notifikasi kepada masyarakat di sekitar hutan.

Selain itu, informasi potensi kebakaran hutan itu juga akan dikirim melalui paket SMS jaringan GSM ke kantor pengamatan.

Sehingga, masyarakat di sekitar hutan bisa segera melakukan antisipasi, maupun instansi terkait dalam mengambil langkah-langkah tindak lanjut.

“Pendeteksian dini nya itu seperti yang saya katakan tadi, adalah yang pertama suhu meningkat, itu pasti. Setelah itu kelembapan, jadi kalau suhu sudah meningkat maka kandungan air yang ada di dalam udara itu akan menurun,” terangnya.

Tahap selanjutnya, sambung Iradat, asap akan muncul dan setelah itu baru diakhiri dengan munculnya titik-titik api.

Apakah alat ini bisa digunakan pada kebakaran gambut? Iradat menjawab, “Nah, untuk semua jenis kebakaran hutan bisa digunakan termasuk pada lahan gambut. Hanya saja pemasangannya membutuhkan adaptasi, karena karakteristik hutan itu berbeda-beda,”

Dijelaskannya, hasil penggunaan alat ini di lapangan menunjukkan bahwa karakteristik hutan dengan ketinggian pohon 1,5 sampai 5 meter seperti yang banyak disini, itu berbeda dengan hutan yang tinggi pohonnya 3-40 meter.

“Maka itu konstruksi alatnya ini dibikin bisa dimainkan. Dia (alat sensor) paling tinggi sampe 5 meter,” tuturnya.

Penggunaan alat ini, lanjut Iradat, aslinya itu ditanam di dalam tanah. Bahannya pun lebih besar dan lebih kokoh, dia (alat sensor) juga punya ruang penyimpanan batere.

“Sejauh ini sudah ada lima titik yang dioperasikan, 4 titik itu di hutan Lambusango dan satu titik di hutan di Kota Baubau, dengan didukung Dinas Perindustrian Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara,” katanya.

Terkait maraknya Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah provinsi di Indonesia? terang Iradat, motivasi besarnya dibikin ini (alat sensor) dari tahun-tahun sebelumnya, pihaknya melihat disana pemerintah itu bukan tidak berusaha, tetapi sudah berupaya.

Akan tetapi, upayanya masih bersifat kuratif, seperti pemadam kebakaran. Sudah terbakar, baru dipadamkan. Maka, muncullah pemikiran.

Pemerintah bukan tidak melakukan itu, lanjut Iradat, tapi sudah juga melakukan. Pemerintah menggunakan teknologi hotspot, itu coveres nya luas tetapi detailnya kurang.

Pemerintah juga sudah pernah menggunakan WSN (Wireless Sensor Network), kebutuhan daya besar, tetapi tidak efisien karena kalau itu dioperasikan dalam jangka panjang cost nya menjadi sangat tinggi.

“Maka kemudian, inilah yang kami usulkan sebagai solusi yang bisa beroperasi nonstop selama setahun dan operasional cost nya juga sangat rendah,” sampainya.

Untuk mengadakan ini (alat sensor), satu unit kisarannya Rp. 15-17 juta biaya produksinya. Itu belum termasuk biaya kalibrasi, karena untuk hutan yang berbeda itu harus dikalibrasi 1 X 24 jam.

“Jadi alat ini kita biarkan di titik dimana yang mau dipasang, setelah kita lakukan analisa topografi terlebih dahulu. Kemudian, kita monitor dan analisa untuk tetapkan ambangnya di hutan itu,” sebutnya.

Apakah alat ini sudah dipasang di lokasi Karhutlah di Riau atau Jambi? Lanjut Iradat, “tadi dari pihak Provinsi Riau dan Jambi sudah menghubungi kesini, tapi seperti apa tindak lanjutnya kita belum mengetahui,”

“Mudah-mudahan bisa segera, karena kita berharap bahwa ini low cost, biaya operasionalnya juga sangat murah, kemampuan daya antisipasinya juga sangat baik, ya kenapa tidak diterapkan,” tambahnya.

Seberapa jauh jarak pemasangan alat sensor dari lokasi monitoring? lanjutnya lagi, sensor ini berada disisi hutan dan alat monitoring ini berada di kantor pemerintah. Jaraknya tidak terbatas, terserah. Karena ini (alat sensor) menggunakan komunikasi GSM.

“Kenapa dipilih komunikasinya GSM, karena coveres area yang paling luas itu adalah GSM mode ids dari semua model komunikasi. Maka bisa dipastikan bahwa di semua lokasi hutan ini akan bisa terpasang,” ujarnya.

Terkait keamanan alat itu sendiri saat terjadi kebakaran, kata Iradat, di dalam pemasangannya itu sudah ada Standar Operasional Prosedur (SOP)nya.

Jadi, pencegahannya yang pertama pemasangan alat ini radius dua meter dari alat itu harus disterilkan dari potensi titik api.

“Jadi kita juga melihat topografi lokasi pemasangan, pembersihannya, dan alat ini di cor. Termasuk kita desain tempat baterenya yang susah diambil, tetapi mudah di maintenance,” ungkapnya.

“Sejauh ini menurut saya dari upaya yang dilakukan pemerintah, (alat sensor) ini bisa menjadi alternatif yang unggul,” pungkasnya. (JR)

Leave a Reply