Terungkap, Dua Terdakwa OTT Kepahiang Sempat Menakut-nakuti Kades

0
403

BengkuluKito.Com, – Dua terdakwa hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) Kejari Kepahiang, yakni Suryadi dan Cahaya Sumita terungkap sempat mengundang dan menakut-nakuti tiga kepala desa, sebelum akhirnya menerima uang sejumlah Rp. 30 juta yang bersumber dari dana desa.

Hal tersebut terungkap dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang dibacakan pada sidang perdana di Pengadilan Tindak pidana korupsi (Tipikor) Bengkulu, Kamis (29/8/2019).

Disampaikan JPU Lucky Selvano dan Juriko Wibisono, di dalam dakwaan primer terdakwa Suryadi, bahwa terdakwa bersama-sama dengan Cahaya Sumita dalam melaksanakan tugas pengawasan telah beberapa kali mengundang dan mengumpulkan kepala desa.

Diantaranya, saksi Alian Sono selaku Kepala Desa Benuang Galing, saksi Ali Imron selaku Kepala Desa Talang Babatan, saksi Ladan Hawadi selaku Kepala Desa Bayung.

Sesekali, dihadiri pula oleh saksi Edi Kusmanto selaku sekretaris Desa Benuang Galing.

Pada setiap pertemuan tersebut, sambung JPU, seharusnya terdakwa Suryadi bersama-sama dengan Cahaya Sumita melakukan pembinaan dan pengawasan keuangan desa sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaannya.

“Namun kenyataannya, terdakwa justru melakukan perbuatan yang bertentangan dengan tugasnya selaku Ketua Dewan Pimpinan Cabang Badan Penelitian Aset Negara – Lembaga Aliansi Indonesia Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu dengan menakut-nakuti ketiga kepala desa tersebut,” terangnya.

Adapun cara yang dilakukan terdakwa, antara lain meminta RAB (Rancangan Anggaran Biaya) terkait penggunaan dana desa tahun 2015, 2016, dan 2017 dari Desa Benuang Galing, Talang Babatan, dan Desa Bayung, untuk dilakukan audit oleh tim ahli dari Universitas Indonesia Jakarta, yang hasilnya nanti akan diserahkan ke Tipikor.

“Kalau RAB tersebut tidak diserahkan, maka akan langsung dieksekutor dengan diserahkan ke Polres dan dilakukan penangkapan. Kecuali, kalau para kepala desa menyerahkan uang sebesar Rp. 30 juta per desa,” bebernya.

Kemudian, terdakwa bersama dengan Cahaya Sumita mengetahui kalau para kepala desa tersebut tidak memiliki uang pribadi, yang ada hanya uang dana desa.

Terdakwa bersama Cahaya Sumita pun tidak mempermasalahkan, kalau uang yang diminta tersebut berasal dari dana desa.

“Oleh karena terdakwa bersama Cahaya Sumita dalam setiap kali bertemu dengan para kepala desa selalu memberikan penjelasan dan cerita-cerita yang membuat para kepala desa ketakutan dan cemas, sehingga akhirnya para kepala desa mengikuti permintaan terdakwa dan Cahaya Sumita untuk menyerahkan sejumlah uang,” paparnya.

Selanjutnya, untuk merealisasikan permintaan terdakwa tersebut, para kepala desa mengumpulkan uang dari dana desa masing-masing Rp. 10 juta.

Menanggapi dakwaan JPU, Penasehat Hukum terdakwa yakni Firnandes Maurisya menyampaikan keberatannya.

Kuasa hukum terdakwa, Firnandes Maurisya.

“Terhadap dakwaan jaksa penuntut umum kami selaku penasehat hukum kedua terdakwa mengajukan eksepsi atau keberatan terhadap dakwaan tersebut,” ucapnya.

Untuk materi eksepsi, sambung Firnandes, pada persidangan minggu depan akan disampaikan karena ini terkait dengan substansi.

“Secara substansi ada tiga poin yang jadi dasar keberatan kita. Kesimpulannya, dakwaan jaksa penuntut umum ini tidak cermat dalam menyusun surat dakwaan,” tandasnya. (JR)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here