Penyegelan SDN 62, Kusmito: Tidak Punya Hati dan Rasa Kemanusiaan

0
179

BengkuluKito.Com, – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bengkulu, Kusmito Gunawan menyampaikan penyegelan yang sebelummya dilakukan oleh ahli waris dan pengacara terhadap SDN 62 Kota Bengkulu tidak punya hati dan rasa kemanusian.

Hal tersebut diungkapkannya saat digelar hearing bersama perwakilan Wali Murid SDN 62 dan IMM Kota Bengkulu, usai aksi damai di depan Kantor Wali Kota Bengkulu, Kamis (29/8/2019).

Saat digelar bearing bersama perwakilan wali murid SDN 62 dan IMM Kota Bengkulu.

“Penyegelan tersebut saya katakan, jujur saja secara pribadi saya katakan ahli waris dan pengacara tidak punya hati dan rasa kemanusian,” ucapnya.

Seharusnya, kata kusmito, pihak ahli waris meminjamkan sementara sekolah tersebut selagi menunggu pihak pemerintah kota membangun sekolah yang baru.

“Setelah selesai pembangunan dan barang-barang dipindahkan, terserah jika mau dijual dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Selain itu, Kusmito juga menanyakan mengapa bisa siswa SDN 62 Kota Bengkulu ada yang sekolah diluar SDN 51 dan SDN 59, karena disepakati kemarin itu tidak ada yang di luar tetapi di dalam.

“Ini kami mau tahu ni, kenapa sampai ada yang di luar ini ya,” tuturnya.

Kemudian, sambung Kusmito, sedikit digambarkan putusan MK 2323 tahun 2016 memang benar dinyatakan ahli waris menang, tetapi tidak bicara tentang angka ganti rugi.

“Nah, mekanismenya bahwa itu dibuat suatu tim. Pada saat tim itu belum bekerja, jujur saja pemerintah kota bersama DPRD kota sudah menganggarkan satu miliar,” jelasnya.

Gunanya apa? sambung Kusmito, “kami beranggapan secara aturan, kita harus mengakui itu pemiliknya. Tetapi waktu itu kami diskusikan, bapak, ibu, pengacara, kemudian ahli waris, kegunaan sekolah ini untuk pendidikan bukan profit oriented.

“Kalo profit oriented itu misalnya digunakan untuk jualan, nanti ada dapat PAD. Tapi ini bukan, ini untuk pendidikan. Oleh karenanya, dengan kemampuan daerah kami coba berkomunikasi,” terangnya.

Artinya itu ada yang dilakukan, tidak diam. Dalam perjalanan itu clear dan ok.

“Nah tau-tau ada penyegelan. Seharusnya, seperti yang bapak ibu bilang tadi, pemerintah kota ini (lahan SD) punya kami ya, Ok ambil. Sementara saya pinjamkan ini sekolah. Tapi ini tidak dilakukan, malah disegel,” tandasnya. (RC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here