Ini Penjelasan Pemkot Bengkulu Soal Tuntutan IMM

0
77

BengkuluKito.Com, – Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu menjelaskan, pihaknya melalui Diknas Pendidikan sudah memfasilitasi siswa-siswi SDN 62 yang menginginkan pindah sekolah secara gratis.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas (Kadis) Komunikasi, Informatika dan Persandian (Kominfosan) kota, Medy Pebriansyah, menjawab tuntutan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bengkulu saat aksi damai di depan Kantor Wali Kota Bengkulu.

Agar, pihak Pemkot mengganti rugi biaya pindah sekolah siswa SDN 62 ke sekolah lain.

Dikatakan Medy, tuntutan IMM Bengkulu itu sebenarnya sudah dijelaskan kepada orang tua siswa saat pertemuan beberapa waktu yang lalu di Dinas Pendidikan Kota Bengkulu.

“Pemkot melalui Diknas Pendidikan justru memfasilitasi siswa-siswi SDN 62 yang menginginkan pindah sekolah secara gratis. Ini sudah jelas, gratis,” kata Medy.

Selain itu, sambung Medy, langkah yang telah diambil Pemkot beberapa waktu lalu dengan memindahkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ke SDN 51 dan SDN 59 adalah solusi terbaik di tengah kondisi disegelnya SDN 62 oleh ahli waris.

Bahkan, Pemkot menyediakan bus pelajar untuk proses mobilisasi antar jemput siswa SDN 62 yang belajar di SDN 51 dan SDN 59.

“Bus pelajar oleh pihak Diknas sementara dihentikan karena memang sebagian orang tua siswa lebih memilih mengantarkan anaknya langsung dari rumah, karena dirasa lebih praktis dibanding harus berangkat bersamaan,” ujar Medy.

Terkait adanya informasi siswa-siswi SDN 62 yang bersekolah di dua sekolah tersebut saling ejek, Medy menanggapi hal itu lumrah.

“Namanya juga siswa SD, tentu mereka butuh beradaptasi. Mungkin sesama siswa saling bercanda,” ujarnya.

Terkait kondisi psikologis siswa, Medy menambahkan, Wali Kota Helmi dan Wawali Dedy Wahyudi sudah pernah mengunjungi dan berinteraksi langsung dengan siswa-siswi SDN 62 di lokasi sekolah sementara.

Dari dialog yang ada, kata Medy, terlihat kondisi siswa-siswi itu tetap senang dan bahagia tidak ada masalah.

“Justru ini kemudian terlihat seperti menjadi masalah ketika siswa-siswi SDN 62 ini digerakkan untuk turun ke jalan, melakukan demo dan meminta-minta sumbangan,” ungkapnya.

“Apa mungkin siswa SD bisa memesan banner untuk demo, membuat atribut kotak sumbangan dan lain sebagainya. Justru yang harus dicari saat ini siapa dalang yang melibatkan siswa-siswi ini,” tutupnya. (RC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here