Cegah Hoax, AJI Bengkulu Gelar Pelatihan ‘Google News Initiative Training Network’

0
196

BengkuluKito.Com, – Guna mencegah penyebaran berita hoax, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan Google News Initiative dan Internews menggelar pelatihan ‘Google News Initiative Training Network’

Pelatihan tersebut digelar dari tanggal 3-4 Agustus 2019 di Grage Horizon, dan diikuti puluhan jurnalis yang berasal dari berbagai media, baik cetak, televisi, maupun online.

Disampaikan Ketua AJI Bengkulu, Harry Siswoyo, kegiatan ini berguna memberikan pembekalan terhadap jurnalis Bengkulu, dan AJI Bengkulu berkomitmen meningkatkan kapasitas terhadap jurnalis.

Ketua AJI Bengkulu, Harry Siswoyo.

“Penyebaran informasi hoax luar biasa, dan publik hari ini dibanjiri begitu banyak informasi. Untuk melacak informasi-informasi palsu, maka salah satunya dengan menggunakan google tools,” terangnya, Sabtu (3/8/2019)

Google sebenarnya memilki sekitar 24 tools yang bisa digunakan jurnalis untuk mengecek fakta atau informasi palsu, lanjut Harry, namun sementara ini (jurnalis) belajar yang fundamental terlebih dahulu.

“Dasar-dasar dulu, paling tidak dengan ini membantu jurnalis untuk kerja-kerja jurnalistiknya memverifikasi informasi,” katanya.

Harry menambahkan, nanti setelah selesainya pelatihan ini peserta akan menjadi satu grup baru, namanya grup fact checker.

“AJI secara nasional akan bergerak dari Aceh sampai Papua melakukan kegiatan serupa. Salah satunya membentuk 3.000 fact checker, dan di Bengkulu salah satunya dari itu,” tambahnya.

Untuk tindaklanjutnya, kata Harry, terbentuk satu grub baru yang terdiri dari jurnalis dan tugasnya membantu kelompok fact checker mengecek fakta-fakta atau informasi palsu.

“Sejauh ini AJI baru membentuk kelompok fact checker, mungkin kedepan akan ada kelompok baru,” tandasnya.

Selain itu, Instruktur pelatihan, Donal Caniago mengatakan, sebagai dasar awal para jurnalis dilatih untuk fasih memanfaatkan sejumlah alat yang telah tersedia di mesin pencari google.

Alat itu berupa Google Reverse Image, Google Maps, Google Trends dan lain sebagainya.

“Orang Indonesia banyak berkerumun di internet tanpa literasi yang memadai, karena itu butuh tools yang bisa membantu memverifikasi informasi yang didapatnya,” ujar Donal. (RC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here