Jecky: Diduga Ada Upaya Menyudutkan Ahli Waris

0
309

BengkuluKito.Com, – Pengacara ahli waris Atiyah, Jecky Haryanto menduga dengan datangnya anak-anak ke sekolah (SDN 62) dan belajar di jalan, ada upaya untuk menyudutkan ahli waris, Selasa (23/7/2019).

Guru dan siswa-siswi SDN 62 tampak belajar di jalan.

Dikatakan Jecky, menyuruh anak-anak ini ke sekolah pasti arah opini publik menyalahkan ahli waris. Mengapa ahli waris begitu kejam melakukan penutupan ini, padahal langkah lain seperti meliburkan dan segala macam bisa diambil selagi proses penyelesaian ini dijalankan.

Terkait itikat baik ahli waris untuk membuka sementara sekolah sampai ada penyelesaian? Jecky menjawab, pihak yang menaungi mereka dari Diknas maupun pemerintah kota ini tidak menunjukan juga bagaimana itikat yang seharusnya mereka lakukan.

Misalnya, sebut Jecky, dengan memanggil resmi atau walikota panggil pihak ahli waris atau Pemda kota yang memanggil ahli waris terkait dengan masa transisi ini.

Karena, lanjutnya, sikap Pemda akan memindahkan sekolah, tetapi ada persoalan di masa transisi ini. Bagaimana ini bisa dicarikan jalan keluar, seharusnya ada permintaan.

“Bukan menyudutkan ahli waris dengan melakukan hal yang seperti ini. Saya fikir ahli waris jadi tersudut, seolah-olah ini kekejaman pihak ahli waris,” ungkapnya.

Tapi yang perlu diketahui, terang Jecky, bahwa ahli waris kemarin pagi telah mendatangi sekolah dan menyampaikan sore harinya, setelah kegiatan belajar-mengajar akan dilakukan penutupan.

Seharusnya diambil kebijakan apakah meliburkan, bukan bertahan dengan melakukan kegiatan belajar-mengajar di luar.

“Kita percaya dan menduga bahwa hal ini adalah upaya untuk menyudutkan ahli waris. Karena, kemarin pagi pihak ahli waris sudah mendatangi sekolah dan menyampaikan bahwa setelah berakhir jam belajar-mengajar akan dilakukan penutupan dan menyarankan agar kepada siswa ini untuk diliburkan sementara waktu sampai persoalan ini mencari titik terang,” bebernya.

Hal itu sudah disampaikan, sambung Jecky, tetapi faktanya itu tidak dilakukan oleh pihak sekolah dan akhirnya anak-anak sekolah tetap hadir di sini datang dan disuruh belajar di jalan.

“Saya fikir ini bukan sikap yang bagus, kasihan anak-anak yang harus berpanas-panas. Belum lagi kalau anak-anak sakit, apa itu tidak terpikirkan oleh mereka,” tanya Jecky.

Saat ditanya bentuk tindakan tegas oleh pihak ahli waris? Jecky mengatakan, “waktu yang kita berikan itu kan satu minggu, dan berakhirnya kemarin. Tidak ada pembicaraan lanjutan, nah harapan kita ada pembicaraan lanjutan,”

Jecky menerangkan, ahli waris diposisi menunggu. Tidak mungkin ahli waris yang mendatangi dinas atau mendatangi Walikota dan menyampaikan karena sikap Pemda yang akan memindahkan sekolah, maka ahli waris mempersilahkan mereka untuk sekolah di lahan itu.

“Ya tidak begitu juga, seharusnya dipanggil pihak ahli waris membicarakan lebih lanjut terkait dengan transisi perpindahan sekolah ini. Itu yang tidak dilakukan oleh pihak pemerintah kota,” tuturnya.

Apakah ada rencana pembongkaran bangunan? lanjut Jecky, itu butuh proses.

Kebanyakan orang berpendapat bahwa pelaksanaan eksekusi harus lewat pengadilan dan segala macam, padahal sebagaimana diketahui, eksekusi terhadap putusan-putusan yang sifatnya hanya menyatakan kepemilikan itu ada mekanisme tersendiri.

“Segera mungkin. Kalau bangunan ini masih bercokol di sini, kerugian yang lebih besar akan ditimbulkan kepada pihak ahli waris,” tutupnya. (RC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here