“Tidak Ada Kopi yang Nyampah di Jurang-jurang Bengkulu”

0
372

BengkuluKito.Com, – Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam hal ini Gubernur Rohidin Mersyah, sedang gencar-gencarnya mempromosikan kopi Bengkulu baik ditingkat nasional maupun internasional dalam berbagai kesempatan dan acara.

Menanggapi hal tersebut, salah satu penggiat kopi di Bengkulu, Khairil Amin menyampaikan jika promosi kopi Bengkulu di pasar nasional dan internasional sebenarnya sudah lama.

Artinya, barang ini bukan tidak laku dan bukan pula kesulitan dipasarkan di dua level itu.

“Dulu kopi Bengkulu masuk lewat Lampung. Kenapa kopi Bengkulu dijual ke Lampung dan ke Padang atau bahkan ke Surabaya? Itu karena fasilitas pengiriman kita yang belum memenuhi standar,” ungkapnya, Minggu (21/7/2019).

Kemudian, lanjut Amin, proses pengolahan kopi itu sendiri. Perbaikan mutu antara great internasional, mulai dari great 5 atau SNI nya great 6 itu tidak laku di pasar internasional.

“Di nasional bukan nggak laku, tapi laku banget. Sebagai contoh tidak ada kopi Bengkulu yang nyampah di jurang-jurang Bengkulu,” ujarnya, yang juga mengelola Saung Belungguk Kito di Pantai Panjang Kota Bengkulu.

Saung Belungguk Kito Pantai Panjang Kota Bengkulu.

Namun demikian, terang Amin, paling penting sekarang bagaimana pemerintah daerah ini katakanlah pemangku kebijakan itu bapak gubernur memberikan edukasi tingkat pengolahan, mulai dari peningkatan kuantitas terlebih dahulu.

“Sekarang kapasitas terpasang rata-rata di Bengkulu ini tidak melebihi angka 500 kilogram per hektar,” jelasnya.

Sehingga dari segi kuantitas, sambung Amin, Bengkulu masih banyak dirugikan. Kalau dari sisi hamparan luar biasa.

“Kalau kita ambil contoh di Gayo Aceh saja, 3 ton per hektar untuk robusta, 2-3 ton. Artinya memang budidaya kopi itu sudah diperhatikan dengan sangat baik,” paparnya.

Di Bengkulu ini, sepertinya di Kepahiang mulai mengarah ke sana. Sementara luas hamparan Kepahiang menurut data, itu tidak lebih dari 25 ribu hektar.

Persoalannya itu adalah ditingkat budidaya dan pencerahan para petani kopi itu sendiri. Seperti perawatan kopi, pembibitan, pemupukan, biaya hidup dan segala macam.

Sehingga, kalau selama ini paradigmanya kopi Bengkulu itu dicengkram oleh para tengkulak sebenarnya tidak terlalu benar.

Kenapa tengkulak itu bisa bermain? Amin menyebut, karena memang produktifitas kopi Bengkulu itu belum pada tatanan yang maksimal.

“Nggak perlu ragu lah, saya fikir promosi Bengkulu besar-besaran itu apalagi dengan memunculkan nama lain itu tidak terlalu menjual” katanya.

“Karena ketika permintaan banyak, kita mengadakannya (kopi) lewat apa? Secara kuantitas kopi itu terbatas dan tidak mendukung,” bebernya.

Daya dukung yang lain tentunya itu adalah pelabuhan. “Saya fikir toke-toke besar tidak akan tinggal diam begitu saja ketika memang produktifitas kopi yang memenuhi standar itu bisa diadakan di Bengkulu,” tambahnya.

Terkait infrastruktur, kata Amin, jujur saja ketika ke Lampung itu luar biasa daya dukung infrastrukturnya.

Sekarang, bagaimana kawasan-kawasan hutan lindung itu dengan apapun bentuk program, termasuk perhutanan sosial dan segala macamnya benar-benar menyentuh pada level petani itu sendiri.

“Jadi jangan hanya wacana, angin surga yang diatas atau permukaan saja. Kalau cerita tentang kopi Bengkulu mendunia, saya fikir agak terlambat tahu pak gubernur,” ungkapnya.

Kopi Bengkulu sudah lama mendunia, bukan sekarang saja. Itu sudah lama, sejak zaman penjajahan kopi Bengkulu sudah mendunia.

“Di Kepahiang itu masih banyak lho sisa kopi penjajahan, mulai dari Batu Bandung, Air Punggur ke daerah Bukit Sunur,” ungkapnya.

“Pak gubernur main-main dululah kesana, ke BRT naik ke atas tembus ke Muara Dua, itu kopi semua. Di Kaur dan Seluma begitu juga, hanya Kota Bengkulu saja yang tidak punya kopi,” tambahnya.

Selain itu, sambung Amin, kalau untuk jalan dibangun minimal jalan setapak untuk ojek. Kendalanya selama ini kan daerah-daerah hutan lindung itu tidak bisa dibangun jalannya karena kawasan.

“Sekarang, saya fikir pemerintah punya cara bagaimana daerah-daerah tersebut bisa dibuka akses jalan yang lumayan sehingga tidak terkesan jalan itu jalan yang belum merdeka,” ucapnya.

Ia menyebut, ongkos angkut kopi itu sendiri yang mencekik petani.

Kemudian, untuk pabrik pengolahan kopi juga sangat penting. Bengkulu sebenarnya sudah layak punya pabrik pengolahan skala besar, karena kapasitas terpasang di tahun 2016 saja itu sudah diangka 56 ribu ton/tahun.

“Saya yakin itu belum data yang sebenarnya, karena bisa lebih dari itu. Kalau saya yakin masih diatas 100 ribu ton untuk Provinsi Bengkulu secara keseluruhan,” ungkapnya.

Kalau untuk pengepakan, Amin mengatakan, itu sesuai dengan permintaan buyer/pembeli.

“Saya dengar si-Atiu itu ngisi Nestley, pak Nata ngisi Kapal Api Surabaya. Artinya kan mereka cuma main karungan saja, jadi belum ada perhatian khusus,” jelasnya.

Kalau seandainya ini diperhatikan secara khusus, sambung Amin, Bengkulu kan sudah punya AEKI (Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia). Sehingga, kopi Bengkulu itu benar-benar bukan hanya dijual dalam bentuk asalan.

“Harapan kita kopi Bengkulu itu memang memasuki great 3 ke atas, great specialty. Sehingga secara kualitas Bengkulu unggul, secara kuantitas juga unggul,” terangnya.

Kalau untuk harga ditingkat petani kopi, hal itu terkait komoditas permintaan dunia artinya tidak terlalu bisa untuk dimain-mainkan.

“Kopi Bengkulu yang dijual dengan kualitas terendah, harganya segitu lah. Kita butuh mesin shortasi, mesin yang benar-benar mampu memilah biji kopi itu sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Amin, dibutuhkan juga akses pasar terhadap olahan dari kopi itu sendiri. Bukan hanya jual green bean saja.

“Sekarang ini kan seolah-olah kita jual green bean aja sehingga ya mohon maaf yang kita jual itu ya bahan baku. Ketika ceritanya bahan baku jangan terlalu berharap harga mahal,” katanya lagi.

Masih menurut Amin, seharusnya pemerintah menyikapi dari situ, bahwa ada pabrikasi dalam skala besar untuk menangani, menampung seluruh hasil kopi di Bengkulu.

“Tugas dari pemerintah daerah bukanlah bentuk promosi yang kesannya menghambur-hamburkan uang nggak jelas, tapi lebih bagaimana membuka akses pasar,” imbuhnya.

“Jerman permintaan banyak, Eropa Timur permintaan banyak, Arab Saudi permintaan banyak, bahkan Singapura itu permintaannya luar biasa. Kopi bukan hanya untuk diminum saja, tetapi juga sebagai komoditas untuk obat kecantikan,” pungkasnya. (JR)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here