Rawan Bencana, Kemendes PDTT Gelar Simulasi Penanggulangan Banjir di Seluma

0
140
Bupati Seluma Bundra Jaya

BengkuluKito.Com, – Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar simulasi penanggulangan bencana banjir kepada masyarakat di daerah tertinggal, Desa Padang Pelasan Kecamatan Air Periukan Kabupaten Seluma, Kamis (18/7/2019).

Simulasi tersebut dilaksanakan di lapangan sepak bola Desa Padang Pelasan, yang dihadiri Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana, Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Kemendes PDTT, Hasman Ma’ani, Bupati Seluma Bundra Jaya, BPBD Seluma, Kodim, Lanal dan masyarakat Desa Padang Pelasan.

Simulasi bencana banjir oleh tim BNPB Seluma dan masyarakat.

Disampaikan Hasman Ma’ani, simulasi tersebut dimulai dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas kajian kebutuhan pasca bencana (Jitupasna)/Post Disaster Needs Assesment (PDNA).

Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, dan dihari ketiga ini dilakukan simulasi bencana banjir. Kabupaten Seluma dipilih karena Kemendes PDTT menilai Seluma masih termasuk daerah tertinggal dan rawan bencana.

“Seperti kita ketahui bencana banjir itu ada tiga jenis, banjir bandang, banjir genangan dan banjir rob. Yang kami lakukan (simulasi) disini adalah banjir bandang di Kabupaten Seluma Kecamatan Air Periukan Desa Padang Pelasan,” jelasnya.

Tujuan dari simulasi banjir ini, jelas Hasman, adalah kesiapsiagaan terhadap Pemerintah Kabupaten Seluma, masyarakat, maupun penggiat bencana.

Kesiapsiagaan ini dilakukan, harapannya seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Seluma, sadar yang namanya bencana.

“Nah, kalau sudah sadar tentu kita harusnya waspada. Kalau sudah waspada baru kita lanjutkan ke tingkat yang namanya kesiapsiagaan,” ujarnya.

Tujuan utamanya adalah, bagaimana agar bisa meminimalisir jumlah korban, jumlah kerusakan dan tentunya yang diharapkan disini, menyelamatkan korban jiwa.

“Baru pertama kali ini kita melakukan simulasi banjir di Kabupaten Seluma. Mudah-mudahan di kabupaten-kabupaten berikutnya di daerah tertinggal yang jumlahnya 122, khususnya di daerah yang mempunyai kerawanan tinggi bencana banjir, kami lakukan juga simulasi yang sama,” tambahnya.

Terkait waktu yang dibutuhkan saat awal bencana terjadi, kata Hasman, kalau evakuasi itu ada tiga tahap yakni dilakukan sebelum terjadinya bencana, evakuasi dan pasca terjadinya bencana. Tahapan-tahapan itu harus dilewati.

Tahapan persiapan, sambung Hasman, kawan-kawan kemarin sudah melakukan saat gladi, khususnya dari penggiat bencana, BPBD Seluma, dan Kemendes PDTT.

Sebetulnya ideal itu dua hari, sehingga mereka dilatih terus dan masyarakat punya pemahaman yang melekat.

Soal penggunaan dana desa untuk mitigasi bencana, terang Hasman, penggunaan dana desa itu ada yang diperuntukan bagi pembangunan dan ada yang digunakan untuk pemberdayaan masyarakat.

Kalau yang terkait dengan kebencanaan, ini sudah dialokasikan di Permendes 16 tahun 2018, tentunya untuk pelaksanaan kegiatan di 2019.

“Itu ada alokasinya di sana, antara lain ada penanganan kebencanaan, kesiapsiagaan, dan lingkungan hidup,” ujarnya.

Jadi sekiranya bapak bupati dalam hal ini bisa memberdayakan, sehingga pembangunan yang berbasis desa itu sesuai dengan apa yang sudah dikeluarkan pemetaan oleh BPBD, dan itu benar-benar diikuti sebagai prototype, bahwa tidak membangun pada daerah-daerah bencana.

Disinggung jumlah alokasi dana yang bisa dianggarkan untuk tanggap bencana? Hasman menjawab, itu tergantung pada musyawarah mufakat desa yang tentunya didampingi oleh pendamping-pendamping desa yang ada di Kabupaten Seluma, untuk diarahkan ke sana sehingga dalam penganggaran APBDes itu dialokasikan.

Jangan kemudian ada Permendesnya, tetapi yang namanya bencana itu diabaikan.

“Kita berharap, dari Kemendes PDTT melalui pak bupati dan OPD-OPD benar-benar yang namanya penggunaan dana desa juga digunakan untuk penanggulangan kebencanaan. Mulai dari penanganan, kesiapsiagaan, dan lingkungan hidup,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Seluma Bundra Jaya menuturkan pihaknya mengucapkan terimakasih kepada Kemendes PDTT karena Seluma termasuk yang dipilih tahap pertama simulasi bencana banjir.

“Dengan beliau (Kemendes PDTT) datang ke Seluma, kita minta tambah. Kita ajukan lagi alat-alat untuk sumber suara Early Warning System (EWS) baik bencana banjir maupun tsunami. Kita kan ada 14 kecamatan dan 180 desa, pada umumnya kita masih rawan betul banjir, ada bencana alamnya, ada longsornya,” tuturnya.

Maka, tambah Bundra, nanti melalui pak direktur (Hasman Ma’ani) setidak-tidaknya pusat memberikan sebagian dana itu untuk pembangunan Seluma.

“Ada pelapis tebing, ada untuk pelebaran sungai, bagaimana jalannya setidak-tidaknya banjir tidak terlalu. Tidak seperti selama ini banjir dampaknya luar biasa, ada korban, sampai ratusan rumah yang terendam. Itu mengenai banjir bandang,” pungkasnya. (JR)

Leave a Reply