Dilimpahkan ke JPU, Dua Sipir Kasus Penganiayaan Polisi Hingga Tewas Ditahan

0
68

BengkuluKito.Com, – Dua sipir tersangka kasus penganiayaan hingga tewas tahanan Rutan Malabero Kelas II B Kota Bengkulu, Bripka Rafii Syahri Hamzah, Selasa (9/7/2019) sore resmi ditahan.

Korban adalah anggota polri yang terjerat kasus penyalahgunaan narkotika, yang sebelumnya bertugas di Kaur.

Penahanan dilakukan oleh pihak Kejaksaan negeri (Kejari) Kota Bengkulu, setelah pelimpahan tahap dua dari penyidik Polda Bengkulu kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Kedua sipir tersebut yakni Rahman Apriandi dan Gustianes. Selain itu, enam tersangka lainnya yang merupakan Napi Rutan Malabero juga ditahan.

Dikatakan Pelaksana harian (Plh) Kajari sekaligus Kasi Pidsus Kejari Bengkulu, Oktalian Darmawan, Alhamdulillah sore hari ini sekitar pukul 14.00 WIB sudah dilaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti perkara yang menyebabkan matinya seseorang. Kedua tersangka yakni Rahman Apriandi dan Gustianes.

Plh Kajari Bengkulu, Oktalian Darmawan.

“Intinya sore hari ini sudah dilakukan penyerahan tahap dua, dan untuk para tersangka dilakukan penahanan,” terangnya, di Kantor Kejari Bengkulu.

Penahanan ini, sambung Oktalian, dilakukan karena ancaman hukumannya diatas lima tahun dan untuk mempermudah proses dipersidangan.

“Berdasarkan pendapat dari Jaksa Penuntut Umum untuk dilakukan penahanan, maka para terdakwa pada sore hari ini kita lakukan penahanan dan tadi sudah kita antar ke Rutan Malabero,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Oktalian, penahanan dilakukan karena tersangka dikawatirkan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.

“Seperti yang saya jelaskan tadi, karena perkara ini ancaman hukumannya diatas lima tahun dan untuk mempermudah proses persidangan nanti, serta dikawatirkan yang bersangkutan melarikan diri dan juga menghilangkan barang bukti kita sepakat berdasarkan pendapat-pendapat JPU untuk menahan tersangka,” paparnya.

Ia menambahkan, pasal yang disangkakan yakni Pasal 304, Pasal 306 ayat 2 KUHP Junto Pasal 55 untuk kedua sipir dengan ancaman 9 tahun penjara. Sedangkan enam tersangka lainnya dijerat dengan Pasal 170 KUHP.

Terkait pengajuan penangguhan penahanan terhadap kedua sipir oleh pihak Kemenkumham? Oktalian menjawab, kalau di Kejari Bengkulu memang baru pagi tadi pihak Kemenkumham mengajukan penangguhan penahanan.

“Karena kita berdasarkan prosedur administrasi, jadi dari surat tersebut saya disposisikan ke Kasi Pidum untuk minta pendapat dari para JPU nya, dan JPU sendiri berpendapat seperti yang saya jelaskan tadi untuk mempermudah persidangan nanti kepada para terdakwa ditahan,” bebernya.

Disisi lain, Kepala Lapas Kelas II A Bengkulu Nuridin, menyampaikan untuk dua sipir yang menjadi tersangka selama ini ditangguhkan penahanannya dengan alasan tenaga keduanya sangat dibutuhkan sebagai pegawai. Setiap dimintai keterangan, keduanya selalu koperatif.

“Hari ini memang pelimpahan, untuk proses lebih lanjut nanti kita tunggu ajalah. Selama ini memang nggak ditahan, karena yang bersangkutan pegawai dan dibutuhkan tenaganya. Jadi, kapanpun untuk dimintai keterangan atau jadi saksi, siap,” ungkapnya.

Saat ditanyakan upaya penangguhan penahanan setelah tahap dua? Nuridin menjawab, “kita upayakan supaya semua berjalan, artinya sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, itu saja,” ucapnya.

Untuk status kepegawaian kedua sipir? “kalau itu masih lah, kan itu ada proses dan aturan mainnya. Kalau dia nanti kena sekian tahun, kan ada sanksinya. Biasanya kalau putusan diatas tiga tahun ada sanksi yang berat,” tutupnya.

Terhimpun, kasus tersebut terjadi pada Rabu 16 Mei 2018 di Rutan Malabero. Korban merupakan tahanan titipan Polda Bengkulu dalam kasus narkotika, setelah penyidik Polda melimpahkan tahap dua korban dan berkas perkara ke jaksa.

Malam harinya, sekitar pukul 20.30 WIB terjadi keributan antara korban dan beberapa tahanan lainnya. Akibatnya, korban dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, Kamis (17/5/2018) korban menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. (JR)

Leave a Reply