Menelusuri Pasar Panorama Kota Bengkulu, Saksi Bisu Perjuangan Pemuda Mencari Rezeki

0
81
Usia tak pernah melemahkan usahanya. Terik tak menghentikan langkahnya. Hujan tak meluruhkan asanya. Baginya, rezeki sudah diatur oleh sang kuasa atas segala. Namun bukan berarti kita hanya sekedar berdo’a dan meminta.

Jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Iring-iringan awan tebal yang sedari tadi mencurahkan hujan, perlahan mulai hilang dan ditembus sinar sang mentari, tanggal di kalender menunjukkan tanggal 2 Juli 2019 suasana di Pasar Panorama Kota Bengkulu sedikit becek, namun tetap saja, pasar masih sangat ramai dan sesak.

Pasar Panorama terletak di Jalan Salak Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Pasar Panorama ini buka 24 jam, jadi setiap saat di Pasar Panorama melakukan kegiatan jual beli. Jika pembeli ingin membeli sayur atau ikan murah bisa datang jam 03.00 pagi karena pembeli akan langsung bertemu dengan penjual utama sehingga harganya jauh lebih murah, atau bisa datang sore hari menjelang magrib, karena penjual akan jual obral karena ada sebagian ingin pulang atau dagangannya harus habis hari itu juga.

Untuk menuju pasar panorama ini bisa memakai jasa Angkutan Kota, selain tarif yang murah, juga bisa membawa banyak barang. Terletak dilokasi yang strategis pasar panorama ini dilewati oleh semua jalur trayek Angkutan Kota, baik angkot warna merah, hijau, putih, biru, dan kuning.

Sore itu, ratusan pedagang memadati Pasar Panorama sambil sibuk menjajakan dagangannya kepada pembeli yang lalu lalang. Mulai dari anak kecil yang menjajakan asoi kepada ibu-ibu yang sedang berbelanja, hingga ke orang tua paruh baya yang masih sibuk menggelar dagangannya. Masing-masing saling berusaha, untuk mencari rezekinya.

“Namanya rezeki ya harus dicari, nggak mungkin datang sendiri”, ujar Suardi, salah satu pedagang berusia 69 tahun yang masih semangat berdagang buku Iqra’ dan poster alfabet di salah satu sudut Pasar Panorama sejak tahun 2013.

Setiap hari Suardi selalu menghabiskan waktunya dengan berdagang di Pasar Panorama. Biasanya Suardi mulai menggelar dagangannya dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 05.30 sore. Penghasilan Suardi pun tak seberapa. Namun Suardi percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT, jadi tinggal kita yang berusaha.

“Apalagi sekarang bulan Ramadan, bulan penuh berkah. Kita harus semakian giat berusaha, agar Allah semakin giat pula memberi kita rezeki,” ujarnya.

Pasar Panorama biasanya mengalami kemacetan di pagi dan sore hari. Penyebabnya adalah karena ketika di pagi hari banyak masyarakat yang beraktivitas seperti mengantar anak ke sekolah dan pergi bekerja, biasanya orang-orang melewati jalan ini karena jalanan Pasar Panorama adalah jalan menuju kebeberapa tempat lokasi, jika di sore hari jalanan macet karena pasar akan lebih ramai sebab para pedagang menjual dagangannya lebih murah, takut dagangan tersebut tidak segar lagi untuk dijual keesokan harinya.

Namun di bulan Ramadan seperti sekarang, Pasar Panorama biasanya mengalami kemacetan di sore hari. Hal ini karena saat sore, banyak sekali pedagang yang berjual takjil serta lauk untuk berbuka.

Bukan hanya itu, banyak pula pedagang yang menjual alat sholat, kue kering, toples, hingga ke buku Iqra’ seperti yang dijajakan oleh Pak Suardi.

“Kita kerja harus Lillah, gak boleh kenal lelah. Apalagi kalo puasa dijadikan alasan malas malasan. Nggak akan berkah puasa kita, begitupun rezeki,” ungkap Suardi.

Meskipun usianya memasuki senja, namun semangatnya tetap membara. Ia tetap menjajakan dagangannya kepada orang-orang yang lalu lalang di Pasar Panorama, meskipun belum ada yang tertarik membeli nya.

Matahari semakin redup dan hari semakin gelap. Jam telah menunjukkan pukul 05.30. Suardi mulai merapikan dagangannya untuk bersiap pulang. Dimasukkannya seluruh dagangan miliknya kedalam kresek hitam yang cukup besar. Kemudian di letakkannya di atas sepeda tua miliknya, sambil kemudian diikat dengan tali rapia.

Sembari beristirahat sejenak, Suardi berpesan, “Belajarlah dengan sungguh-sungguh, agar nanti mampu memperoleh rezeki yang berkah dari Allah”. Tak lama kemudian, Suardi beranjak.

Kemudian ia meninggalkan pasar tersebut sembari menuntun sepeda tuanya dengan badan nya yang renta. Namun tentu saja, pasar tetap pada aktifitasnya. Ramai, sesak, penuh dengan harapan para pedagang lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here