Dituntut 4 Tahun, Warga Kepahiang Jadi Korban UU P3H

0
323

BengkuluKito.Com,– Terdakwa, Hermanto Bin Nusirwan (43), warga Desa Tebat Monok Kabupaten Kepahiang dituntut 4 tahun penjara dan denda 1,5 Miliar subsider 6 bulan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kepahiang.

Kata Penasehat Hukum Terdakwa, Firnandes Maurisya, Rabu (15/5/2019), Hermanto menjadi korban atas kesewenang-wenangan aparat Penegak hukum dalam menerapkan Undang – Undang P3H terhadap diri terdakwa.

Terdakwa Hermanto dituduh menebang pohon di kawasan hutan lindung bukit daun register 5 di jalan lintas Bengkulu Kepahiang.

“Iya terdakwa didakwa dengan Undang-Undang P3H (Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan) dan dituntut selama 4 tahun,” ucap Firnandes.

Menurut Firnandes, aparat penegak hukum keliru menggunakan Undang-Undang P3H kepada Terdakwa Hermanto, karena filosofisnya Undang-Undang tersebut lahir untuk memberantas perusakan dan penebangan hutan yang terorganisir atau koorporasi.

“Undang-Undang ini secara filosofis diperuntukkan bagi pelaku perusakan hutan yang berskala besar, terorganisir dan lintas negara,” ungkapnya.

Hal ini dapat dilihat, lanjut Firnandes, pada dasar menimbang, kemudian penjelasan Undang-Undang dan dalam ketentuan Umumnya.

Lebih lanjut, Penasehat Hukum Terdakwa mengatakan akan mengajukan Nota Pembelaan dan menyiapkan argumen hukum sebagaimana tuntutan Penuntut Umum.

Untuk diketahui, Terdakwa Hermanto didakwa dengan Undang-Undang P3H karena dianggap telah menebang satu batang pohon di pinggir Kawasan Hutan Lindung Bukit Daun Reg. 5 yang berbatasan dengan jalan lintas Bengkulu Kepahiang serta Terdakwadiajukan dengan barang bukti berupa tunggul kayu mati sepanjang 30 cm. (RC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here