Menipu Proyek 700 Juta, Mantan Honorer PUPR Prov Ditahan Polda

0
67

BengkuluKito.Com,- AP (31) warga Kelurahan Sidomulyo Kota Bengkulu yang merupakan mantan honorer Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Bengkulu, harus berurusan dengan hukum dan ditahan penyidik Polda Bengkulu. Lantaran dilaporkan melakukan penipuan sejumlah proyek di Dinas PUPR Provinsi Bengkulu.

Tidak tanggung-tanggung, AP dilaporkan berhasil menipu Sukman Riadi hingga mengalami kerugian Rp 700 juta.

Kejadian bermula saat terlapor menemui Sukman kemudian menawarkan 4 paket proyek di Dinas PUPR Provinsi senilai Rp 52 miliar pada 2018.

Jika ingin mendapatkan proyek tersebut, korban harus memberikan uang Rp 700 juta kepada tersangka, karena pernah bekerja menjadi honorer, tersangka mengaku kepada korban bisa mengurus semua proses administrasi agar bisa mendapatkan proyek tersebut sehingga korban langsung menyepakati kerja sama dengan tersangka.

Dalam Press Conference yang di gelar di Ruang Press Room Bid Humas Polda Bengkulu, Kabid Humas Polda Bengkulu, AKBP Sudarno. S.Sos., M.H. mengungkapkan, pelaku mengaku bisa mengurus segala adminisrtasi terkait proyek tersebut karena sudah pernah bekerja sebagai honorer di Dinas PUPR Provinsi Bengkulu, Kamis (28/3/2019).

“Karena korban percaya kemudian memberikan uangnya, tapi sampai sekarang proyek tersebut belum selesai hingga korban melaporkan ke Polda Bengkulu,” ungkap Sudarno

Agar korban semakin percaya, pelaku mengatakan, proyek tersebut gagal, maka semua uang yang sudah diberikan akan dikembalikan dan sampai akhirnya pada Maret 2018, korban memberikan uang tunai Rp 700 juta kepada tersangka disaksikan dua orang saksi dengan perjanjian akan dikembalikan pada 2 Agustus 2018, jika paket proyek tidak didapat.

Ternyata saat jatuh tempo paket proyek tersebut tak kunjung didapatkan korban dan saat uang ditagih pada September, tersangka beralasan masih dalam proses lelang.

Kemudian, beralasan lagi bakal mengembalikan secepatnya dengan menjaminkan dua lembar cek bank Mandiri atas nama perusahaan dengan nilai cek masing-masing Rp 350 juta dan saat korban hendak mencairkan cek tersebut, ternyata sudah tidak bisa.

Sementara itu, Dari pengakuan tersangka uang Rp 700 juta dari korban tersebut sudah digunakannya untuk mengurus proyek.

“Uang sudah digunakan untuk mengurus proyek,”singkatnya.

Namun keterangan tersangka itu tidak bisa dibuktikannya kepada pihak kepolisian dan akhirnya menahan tersangka untuk dikembangkan lebih dalam. Beberapa barang bukti yang diamankan penyidik meliputi kwitansi penyerahan uang, cek kosong dan surat keterangan dari bank. Pelaku dijerat pasal 378 KUHP dan atau pasal 372 KUHP. (RC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here