Kurangi Resiko Bencana, PMI Dirikan Mangrove Education Center

0
19

BengkuluKito.Com,- Asisten II pemerintah provinsi Bengkulu Yuliswani, meresmikan Manggrove Education Center di kawasan Sumber Jaya, Kota Bengkulu.

Program ini, merupakan kerjasama Palang Merah Indonesia bekerjasama dengan Japanese Red Cross Society, sebagai upaya pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat.

Dijelaskan Pengurus PMI Pusat Sumarsono, Rabu (20/2/2019) bahwa program ini sesuai dengan potensi dan karakteristik di kelurahan Sumber Jaya yang berada di wilayah pesisir.

Diharapkan dengan adanya manggrove education center ini, dapat memberikan wawasan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kelestarian hutan manggrove, terlebih karena Bengkulu masuk sebagai daerah dengan potensi bencana alam dan tsunami yang tinggi.

Di sini, masyarakat dapat belajar mengenai Manggrove, mulai dari jenis, cara pembibitan, hingga manfaat yang bisa diperoleh dari pohon manggrove.

“Kami pusatkan disini, karena pembibitannya ada disini, namun konservasi mangrove kita lakukan di sepanjang pantai di Provinsi Bengkulu,” ujar Sumarsono

Dalam kesempatan ini, Yuliswani menyampaikan ucapan terimakasih kepada Palang Merah Indonesia dan Japanese Red Cross yang telah membantu pemerintah dalam upaya pendidikan siaga bencana berbasis masyarakat.

Diharapkan dengan adanya program ini, masyarakat memiliki wawasan dalam menghadapi bencana yang bisa datang tiba tiba.

“Kegiatan seperti ini sangat membantu pemerintah, diharapkan melalui konservasi hutan mangrove tidak hanya akan mengurangi dampak bencana seperti abrasi pantai dan tsunami, tetapi dapat berkembang menjadi destinasi wisata baru,” katanya.

Dengan berkembang sebagai objek wisata, secara otomatis akan memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat sekitar.

Dalam menjalankan pusat pembibitan dan edukasi mangrove, tim SIBAT Sumber Jaya mendapatkan pendampingan dari IPB.

Dijelaskan Andi Affandi dari IPB, saat ini Arboretum Mangrove Sumber Jaya, memiliki 14 jenis pohon Mangrove dari 40 jenis yang ada di indonesia. Sedangkan di pantai sumatera hanya ditemukan 7 jenis, sehingga dengan banyaknya koleksi pohon mangrove yang ada tempat ini, layak dijadikan pariwisata berbasis ekologi dan pendidikan.

“Selain Ekowisata, IPB telah membantu merancang budidaya ikan dan kepiting soka di hutan mangrove, semua sudah diajarkan ke mereka (SIBAT),” tutup Andi. (RC)

Leave a Reply