Pertama di Indonesia, Kejahatan ‘Ecocide’ Sebagai Pelanggaran HAM Masuk Materi Sidang

0
312

BengkuluKito.Com, – Sesuai agenda sebelumnya, sidang lanjutan gugatan Walhi Melawan PT Kusuma Raya Utama (KRU) selaku pihak tergugat dan Gubernur Bengkulu sebagai turut tergugat di Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu, menghadirkan saksi ahli mantan Wakil Ketua Komnas HAM RI, Ridha Saleh.

Terkait, dugaan Perusakan Kawasan Hutan Konservasi Taman Buru Semidang Bukit Kabu dan Hutan Produksi Semidang Bukit Kabu, serta Pencemaran anak Sungai Kemumu.

Dalam sidang ini, saksi ahli fokus menerangkan kejahatan Ecocide, yakni pertama terjadi kerusakan yang luas. Kedua, kerusakan atau kehilangan ekosistem dari suatu wilayah tertentu, ketiga apakah oleh seorang manusia atau oleh penyebab lain, sedemikian rupa. Keempat, kenikmatan damai oleh penduduk wilayah yang telah berkurang, parah.

“Dalam definisi ini manusia merupakan korban melalui kerugian mereka dari “kenikmatan damai” dalam lingkungan alam,” ucap saksi, Senin (28/1/2019).

Dikatakan Ridha, ini merupakan langkah maju dari pengadilan yang berbicara tentang kasus lingkungan masuk ke materi pembahasan Ecocide.

“Saya belum pernah menemukan persidangan manapun berbicara masalah perusakan lingkungan itu masuk ke dalam materi Ecocide, walaupun sebenarnya hal tersebut sudah dibahas di dalam Komnas HAM khususnya berkaitan dengan kasus Lapindo. Tapi itu belum pernah masuk ke dalam pengadilan,” ungkapnya.

Kenapa hal ini perlu diapresiasi, sambung Ridha, yang pertama hakim begitu serius mempertanyakan dan mendiskusikan untuk menjadikan materi ini sebagai bahan diskusi dalam ruang-ruang peradilan khususnya dalam gugatan Walhi melawan PT KRU.

“Ini langkah maju suatu materi kerusakan atau kejahatan lingkungan masuk ke dalam satu terminologi tentang Kejahatan Ecocide. Dengan demikian, peluang untuk mendorong ini menjadi satu regulasi sangat terbuka dan kita berharap proses persidangan kedepan Ecocide ini menjadi bagian dari apapun putusan pengadilan tentang Perusakan dan Pencemaran Lingkungan,” paparnya.

Kemudian, kata Ridha, ada fakta-fakta persidangan nantinya yang akan menjadi Yurisprudensi dalam peradilan Lingkungan Hidup.

Selain itu, Manager Kampanye Industri Ekstraktif Walhi Bengkulu, Dede Frastien, menyampaikan dalam persidangan Walhi melawan PT KRU banyak sekali ditemukan fakta-fakta baru.

“Materi Ecocide dalam persidangan ini merupakan langkah awal dan langkah maju terhadap suatu terobosan baru dalam penegakan hukum atas Kejahatan Lingkungan di Indonesia. Gugatan Walhi ini nantinya, diharapkan akan menjadi sumber hukum baru di Indonesia terhadap Peradilan Lingkungan di Indonesia,” pungkasnya. (Red/Rilis)

Leave a Reply