Bukti dan Saksi Cukup, PT BMQ Yakin Menang Praperadilan

0
206

BengkuluKito.Com, – Usai digelar sidang lanjutan praperadilan dengan agenda pembacaan kesimpulan oleh pemohon PT Bara Mega Quantum (BMQ), pihaknya berkeyakinan akan menang dalam sidang putusan, Selasa (29/1/2019) besok, lantaran didukung cukup bukti dan saksi.

Hal tersebut disampaikan Branch Manager PT BMQ, Eka Nurdianty Anwar, usai menghadiri sidang Prapradilan di Pengadilan Negeri Bengkulu, Senin (28/1/2019).

Diceritakan Eka, kasus ini berangkat dari laporan pihaknya ke Polda Bengkulu tentang adanya dugaan pemalsuan tanda tangan ataupun dokumen penciutan IUP Nomor 339 tahun 2010, yang dimana pemiliknya adalah PT BMQ yang dikelolanya.

Pengajuaan permohonan penciutan IUP itu, kata Eka, dilakukan orang lain dan bukan dari PT BMQ, sehingga IUP ini dijadikan IUP 368 tahun 2013.

“Seharusnya yang mengajukan permohonan tersebut adalah pihak kami, tetapi dilakukan oleh orang lain sehingga adanya indikasi pemalsuan dokumen,” ungkapnya.

Beranjak dari sanalah, sambung Eka, pihaknya melaporkan kejadian tersebut ke Polda Bengkulu, Febuari 2018. Namun, hingga beberapa bulan pihaknya tidak mendapatkan hasil yang bagus dari laporan tersebut, dan bahkan mendapatkan informasi jika hal ini seperti di halang-halangi.

“Akhirnya, kami melaporkan persoalan ini ke Mabes Polri, tepatnya ke Biro Wasidik. Secara, kabarnya laporan kami akan ditutup karena tidak memiliki bukti, namun sebenarnya buktinya ada dan lengkap,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Eka, laporan tersebut dilakukan gelar perkara oleh Mabes Polri, tepatnya 6 Juni 2018. Diluruskan oleh Mabes, bahwa memang adanya dugaan pemalsuan Pasal 263 dan 266 KUHP, serta pihaknya mendapatkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) dari Mabes Polri.

Isi SP2HP tersebut, terang Eka, menerangkan bahwa mereka dalam hal ini Polda Bengkulu diberikan waktu dua bulan untuk melaksanakan hasil gelar perkara. Akan tetapi, Polda menyebutkan tidak ada alat bukti, dan saksi ahli Polda juga menyebutkan tidak cukup alat bukti.

“Oleh karena itulah kami mengambil tindakan hukum Prapradilan ke Pengadilan Negeri Bengkulu, hingga akhirnya saat persidangan di hari ketiga kami menghadirkan saksi ahli pidana yang sama seperti Polda Bengkulu yakni Hamzah Hetrik. Karena kami ingin tahu, apa yang disampaikan Polda Bengkulu kepada saksi ahli pidana sehingga membuat dia beranggapan tidak cukup bukti permohonan yang kami lakukan,” terangnya.

Selanjutnya, saksi Polda tersebut menyampaikan bahwa pada saat dia dimintai keterangan sebagai saksi ahli Polda Bengkulu, penyidik menyampaikan kepada beliau tidak adanya akta pembanding, dokumen pembanding, tidak adanya pihak yang dirugikan, dan juga kasus tersebut sudah disampaikan ke Mabes, tetapi tidak cukup bukti.

“Itulah keterangan yang saksi ahli dapatkan dari penyidik Polda Bengkulu. Akan tetapi, saat pemeriksaan saksi dari pihak kami, pengacara kami menanyakan kepada saksi ahli apakah diperlihatkan dokumen SP2HP ataupun hasil gelar perkara Mabes, jawab saksi ahli tidak diperlihatkan,” bebernya.

Setelah pihaknya memperlihatkan hasil dari Mabes Polri, kata Eka, saksi ahli sangat terkejut dan mengatakan jika ia diperlihatkan hasil tersebut waktu itu, maka saksi akan dengan tegas menyatakan hal tersebut adalah pidana dan ini wajib dilanjutkan.

“Kalau saja waktu itu saya diperlihatkan oleh penyidik surat dari Mabes Polri ini, maka saya akan berkata cukup bukti dan ada pidananya, serta langsung dilanjutkan,” tutup Eka Nurdianty menirukan penyampaian keterangan saksi ahli saat di persidangan sebelumnya. (RC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here