Tabur Bunga di Laut, Jurnalis Bengkulu Tolak Remisi Pembunuh Jurnalis

0
62

BengkuluKito.Com, – Puluhan jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Muda Bengkulu (AJMB), Sabtu (26/1/2019) pagi menggelar aksi solidaritas tabur bunga ke laut Pantai Jakat, menolak remisi perubahan untuk I Nyoman Susrama, otak pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Gede Bagus Narendra Prabangsa.

Puluhan peserta Aliansi Jurnalis Muda Bengkulu (AJMB) saat akan menggelar tabur bunga di laut.

Penolakan ini, terkait Keputusan Presiden (Keppres) RI, Joko Widodo merevisi hukuman terpidana melalui Keppres Nomor 29/2018-2019, terhadap Susrama beserta 114 terpidana lainnya.

Akibatnya, Susrama mendapat remisi dari hukuman seumur hidup menjadi hukuman penjara selama 20 tahun, sehingga dianggap sebagai duka dan matinya kebebasan pers.

Aksi tabur bunga ini, guna mengingat kembali peristiwa tragis yang dialami Prabangsa. Saat itu, usai dibunuh Prabangsa dibuang ke laut setelah mengalami penyiksaan oleh para terpidana.

“Tabur bunga yang kita lakukan ini merupakan bentuk aksi solidaritas terhadap Prabangsa, dan bentuk protes kepada kebijakan presiden terhadap pembunuh,” ucap Koordinator AJMB, Firmansyah.

Menurut Firman, apapun alasannya peristiwa yang menghilangkan nyawa jurnalis tersebut merupakan kejahatan besar dan tidak bisa diberi ampun dengan alasan apapun.

“Tidak ada ampun bagi pembunuh, putus ya putus, tidak usah dikasih remisi, tidak ada alasan apapun,” tegasnya.

Terhimpun, kasus pembunuhan tersebut terjadi pada 11 Februari 2009 lalu. Dari hasil penyelidikan polisi, pemeriksaan saksi dan barang bukti di persidangan menunjukkan Susrama adalah otak di balik pembunuhan itu.

Susrama diketahui memerintahkan anak buahnya menjemput Prabangsa di rumah orang tuanya di Taman Bali, Bangli.

Selanjutnya, Prabangsa dibawa ke halaman belakang rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli. Disanalah Susrama memerintahkan anak buahnya memukuli, dan akhirnya menghabisi Prabangsa.

Dalam keadaan sekarat, Prabangsa dibawa ke Pantai Goa Lawah, tepatnya di Dusun Blatung, Desa Pesinggahan, Kabupaten Klungkung. Kemudian, Prabangsa dibawa naik perahu dan dibuang ke laut. Lima hari kemudian, mayatnya ditemukan mengapung oleh awak kapal yang lewat di Teluk Bungsil, Bali.

Akibat perbuatannya, Nyoman Susrama dihukum seumur hidup setelah dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Denpasar karena melakukan pembunuhan berencana secara bersama-sama.

Hakim meyakini, motif pembunuhan itu adalah pemberitaan di harian Radar Bali yang ditulis Prabangsa pada tanggal 3, 8, dan 9 Desember 2008. Berita tersebut, menyoroti kasus korupsi proyek-proyek di Dinas Pendidikan Bangli, yang diduga dilakukan Nyoman Susrama selaku pemimpin proyek. (MY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here