“Matikan Saya Sampai Masuk Neraka Jahanam”

0
188

BengkuluKito.Com, – Terdakwa Bupati Bengkulu Selatan (BS) nonaktif, Dirwan Mahmud, bersumpah jika benar dirinya mengatakan untuk memberikan uang (fee proyek) kepada istrinya dan terdakwa Nursilawati maka ia rela sakit dan mati masuk neraka jahanam.

“Saya pasti akan buat di dalam pledoi nanti. Maka saya bersumpah disini, kalau memang benar saya mengatakan itu kasih uang dengan istri saya (Hendrati) dan Nursilawati, mulai saat ini saya minta di azab Allah. Saya sakit, sampai matikan saya, sampai masuk neraka jahanam saya,” sumpahnya, usai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu, Kamis (10/1/2019).

Sebelumnya, JPU KPK Mohamad Nur Azis dan Muh.Asri Irwan menuntut terdakwa dengan hukuman tujuh tahun penjara dan denda Rp. 300 juta subsidair 6 bulan kurungan, serta hukuman tambahan pencabutan hak politik selama tiga tahun.

“Menyatakan terdakwa Dirwan Mahmud telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan alternatif pertama Pasal 12 huruf a Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP junto Pasal 64 ayat (1) KUHP,” ucap JPU KPK saat membacakan tuntutan.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dirwan Mahmud berupa pidana penjara selama 7 tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dan pidana denda sebesar Rp. 300 juta subsidair selama 6 bulan kurungan dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan,” tambahnya.

Kemudian, menjatuhkan hukuman tambahan kepada terdakwa Dirwan Mahmud berupa pencabutan hak untuk dipilih dalam jabatan publik selama 3 tahun sejak terdakwa selesai menjalani pidana.

Selain itu, salah satu Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Syaiful Anwar menyatakan keberatan atas tuntutan JPU KPK.

“Kita menyatakan keberatan atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Sebab, sejak awal difakta persidangan tidak ada klien kita (Dirwan Mahmud) memerintahkan untuk meminta uang tersebut. Baik dalam bukti percakapan antara Nursilawati dan Jukak, maupun bukti lainnya,” tegasnya.

Adapun majelis hakim yang memimpin sidang yakni hakim ketua, Slamet Suripto, hakim anggota I Gabriel Sialagan, dan hakim anggota II Rahmat.

Diketahui, kasus ini bermula pada Mei 2018 saat KPK menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) di kediaman terdakwa Dirwan Mahmud di Kabupaten Bengkulu Selatan, atas dugaan suap proyek jalan dan jembatan di Dinas PUPR BS

Dari OTT ini, KPK berhasil menetapkan 4 orang tersangka yakni Dirwan Mahmud, Istri Dirwan, Hendrati, Keponakan Dirwan, Nursilawati, dan Kontraktor Juhari alias Jukak. (RC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here