Jelang Tutup Tahun 2018, SEKNAS Jokowi Bengkulu adakan Diskusi Publik Generasi Millenial dalam Politik 2019.

0
177

BengkuluKito.Com,- Menjelang berakhirnya Tahun 2018, Sekretariat Nasional (SEKNAS) Jokowi Propinsi Bengkulu menyelenggarakan Diskusi Publik dengan Tema “Meningkatkan Partisipasi Kaum Millenial dalam Menghadapi Tahun Politik” yang mengundang para mahasiswa dan kelompok-kelompok pemuda/pemudi se-Propinsi Bengkulu bertempat di Restaurant Ayam Jingkrak pada Senin (31/12/2018).

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Penyelenggara Repliansyah, berterima kasih pada peserta yang hampir sebagaian besar dari kampus-kampus yang ada di Propinsi Bengkulu beserta organisasi pemuda dan relawan.

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada peserta yang telah hadir, ada banyak kawan-kawan mahasiswa yang hadir dari kampus-kampus di Propinsi Bengkulu ini, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Narasumber yang telah hadir, yakni Abang kita Usin Abdisyah Putra Sembiring, SH seorang pengacara yang juga mantan Aktivis 98, dan hadil juga Bapak Dickson Aritonang yang juga tokoh LSM dan pernah menjabat Ketua WALHI Propinsi Bengkulu” sambutnya.

Sementara itu, Ketua SEKNAS Jokowi Propinsi Bengkulu Encik Prasajs Idris menyampaikan tujuan dari diskusi publik ini menumbuhkan paradigma Millenial agar tidak terjebak HOAX dan membangun sikap kritis pada persoalan-persoalan isyu HOAX dan menjaga persatuan dan berkontribusi pada pemerintahan saat ini.

“Banyak sekali di media-media sosial, kaum Millenial muda terjebak pada informasi dan berita-berita hanya judulnya saja, padahal memahami beritanya cukup penting”

Ditambahkan Ketua SEKNAS Jokowi Encik Prasajs Idris, Jumlah Kaum Millenial ini sangat Signifikan dalam perannya membawa situasi tahun politik yang akan datang, dan karena itu perlu dilakukan kegiatan-kegiatan diskusi seperti ini untuk ruang bagi mereka dalam menelusuri kebenaran dalam menseleksi berita ataupun informasi.

“Makanya kami adakan diskusi ini ingin mengajak teman-teman muda ini banyak sekali terpengaruh bisa hijrah dari Millenial yang latah kepada Millenial Hijau. kita kaum millenial di bengkulu ini sangatlah tinggi, namun masih abu-abu dalam membaca tahun politik 2019” ujar Encik Prasajs Idris saat membuka acara diskusi publik.

Narasumber saat menyampaikan Materi

Setelah acara dibuka, Para Narasumber memberikan pendapat dan menyampaikan analisa masing-masing atas tema tersebut, salah satunya Usin Abdisyah Putra Sembiring, SH memberikan gambaran bahwa kaum millenial di Propinsi Bengkulu sering sekali menjadi objek bagi para pemain politik disetiap kali pelaksanaan pemilu.

“Sering Sekali kawan-kawan kaum Millenial terjebak dalam permainan isyu-isyu yang membawa kesesatan berpikir, bersikap bahkan bertindak. hal ini dikarenakan pola hidup yang disetting sedemikian rupa pada era atau zaman serba instant. hingga nilai-nilai yang ada pada masyarakat kita sudah tidak lagi pada pemuda Millenial saat ini” awal pembicaraan Bang Usin dihadapan kaum muda millenial.

“Bayangkan saja, kita disuguhkan bahan bacaan atau informasi yang selalu menjadi sampah di media sosial, media massa, bahkan media pemberitaanpun ikut serta dalam memberikan ruang pada sampah-sampah itu konsumsi atau dibaca oleh para pemuda dan pemudi millenial, sialnya hari ini proses penyaringan terhadap informasi atau berita yang dibaca tidak lagi di filter/saring, banyak yang terjebak dalam bahasa menarik dari Judul langsung di Share atau dibagikan kemana-mana padahal isi beritanya sangatlah menyudutkan seseorang atau kelompok tertentu atau intetitas politik tertentu tanpa terkonfirmasi dengan baik” urai Direkrut Relawan TKD Jokowi-Ma’ruf Amien Propinsi Bengkulu ini.

Ditambahkan Usin Abdisyah Putra Sembiring,SH, dari berita-berita HOAX inilah kemudian, pola pikir (mindset) kita dibentuk untuk tidak saling percaya, terbangun rasa kebencian (pada orang, pejabat, presiden, golongan, agama tertentu, lalu terbangun sikap fragmatis bahkan mengarah pada apatisme.

“hingga akhirnya, si pembuat HOAX atau Kekuatan yang Mengorder HOAX tersebut mendapatkan tujuannya yang semata-mata menginginkan masyarakat kita terutama Kaum Millenial yang baru berpolitik atau belum pernah sama sekali ikut pemilu agar pilihan politiknya dipengaruhi dengan kebencian yang tertanam” ungkap Pengacara yang juga aktiv di Partai HANURA Propinsi Bengkulu ini.

Disisi lain, Narasumber Mantan Direktur LSM WALHI dan Ulayat Bengkulu Dickson Aritonang memberikan pandangan bahwa Kaum Millenial ini kebanyakan antara umur 17 tahun sampai 25 Tahun adalah kaum Galau dan sering kali dalam membuat keputusan-keputusan menyangkut dirinya juga tidak luput dari kesalahan, bahkan untuk masa depannya sendiri.

“Kaum Millenial anata umur 17-25 tahun kebanyakan Galau, dalam membuat keputusan atau sikap mengenai dirinya sendiri, sedangkan pada tataran umur 25-40 tahun relatif lebih stabil dalam membuat keputusan. Untuk itu perlu adanya pembelajaran agar kita dalam membaca dan mencermati informasi atau berita-berita yang kita terima untuk disaring atau dipelajari betul apakah berita tersebut HOAX atau tidak sebelum membagikan atau Share” imbuhnya.

“Cara menyaringnya adalah membaca utuh apakah berita itu mengandung unsur kebencian atau berisi informasi yang tidak akurat dan minim sekali datanya, dan perlu menanyakan kepada yang lebih mengerti dalam bidang atau informasi tersebut. jadi buat kaum Millenial yang galau sebaiknya jangan bertindak cepat baru baca judul langsung bagikan, ini yang akan membahayakan bagi yang menyebarkan dan yang membaca bisa terpengaruh” terang Wakil Ketua TKD Jokowi Ma’ruf Amin Propinsi Bengkulu ini.

Acara ini dihadiri ratusan peserta dan ditutup dengan Deklarasi Kaum Millenial muda propinsi bengkulu, dan Yang menarik dalam diskusi publik ini, para peserta yang bertanya mendapatkan doorprize dari panitia. (CW1)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here