Lebong Dalam Tantangan Peningkatan Pendidikan Karakter

0
182

AKA BUDIMAN S.Pd *

Dalam buku pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa terbitan kementrian pendidikan nasional (2010) “karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak,”.
Menurut Poerwadarminta, Karakter berarti tabiat, watak sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain.

Dengan beberapa pengertian tersebut, menumbuhkan karakter dapat dikatakan sebagai upaya menumbuhkan ciri khas yang unik pada setiap individu anak bangsa, dimana ciri khas itu dapat menjadi bekal positif bagi anak. Setiap karakter semuanya baik, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang cerdas memanfaatkan dan menempatkan berbagai karakter yang ada pada dirinya dengan tepat.

Kalau di contohkan karakter itu adalah sebuah huruf dalam abjad yang berjumlah dua puluh enam huruf dengan bentuk dan sebutan yang berbeda beda, ketika setiap huruf disusun dengan cerdas menjadi sebuah susunan kata atau kalimat, maka sebuah kalimat dapat mempunyai nilai dan makna. namun, jika kata yang disusun menjadi sebuah kalimat yang tidak cerdas atau asal asalan dalam menggunakan setiap huruf maka kalimat itu tidak ada maknanya.

Karakter seseorang, akan tercermin dalam kehidupannya sehari-hari sebagi hasil yang didapat dari sebuah nilai, mental dan ketegaran dalam kehidupan seseorang yang telah melalui segala cobaan berupa tantangan dari ketidak pastian yang di tempuh dalam kehidupannya. Ketika seseorang telah cerdas dalam mengolah karakter yang sudah mengakar dalam dirinya, maka akan berdampak baik terhadap lingkungannya yang telah terpancar dari ucapan, perbuatan dan prilaku sehari-hari.

Dalam arus globalisasi yang semakin deras di rasa saat ini, secara otomatis telah melahirkan generasi baru dengan sebutan generasi milenial atau generasi Y, generasi ini adalah mereka yang lahir setelah generasi X dengan kelahiran sekitar di tahun 1980-an hingga tahun 2000-an karakteristik mereka pada umumnya sangat akrab dalam menggunakan kecanggihan teknologi baik berupa informasi, komunikasi, media massa dan teknologi digital. Oleh karena itu tidak heran jika segala sesuatu pekerjaan, informasi dan apa yang diinginkannya dapat dengan mudah dan singkat diperoleh, baik yang bersifat negatif dan positif. Meskipun ada banyak dampak positif dari arus globalisasi yang semakin deras, pemerintah tetap tidak mengabaikan dampak negatifnya. salah satu yang paling diwaspadai adalah ancaman pudarnya karakter generasi penerus bangsa indonesia.

Kerusakan karakter bangsa saat ini terlihat dengan berbagi prilaku kenakalan remaja seperti narkoba, koleksi vidio porno, sex bebas, kejahatan, pemerkosaan, pemerasan dengan ancaman pembunuhan dan yang kerap terjadi adalah prilaku yang mengikuti budaya luar yang tidak sesui dengan budaya bangsa indonesia yang dipengaruhi dari kecanggihan teknologi informasi yang tidak dapat disaring lagi.

Oleh sebab itu, untuk berperan dalam kemajuan bernegara digenerasi emas tahun 2045 yang akan datang, di era generasi milenial pemerintah melalui Kemendiknas (2011) telah serius memperhatikan peningkatan pendidikan karakter sebagai salah satu kunci utama mencapai kemajuan negara dengan menerbitkan delapan belas karakter yang perlu ditanamkan serta di tumbuhkan, delapan belas karakter itu bersumber dari nilai agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Empat sumber nilai itu dirangkum menjadi 18 karakter yang perlu ditanamkan dan dikembangkan, yaitu: religius, jujur, Toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.

Kesriusan untuk peningkatan karakter juga terlihat dikelurkannya kurikulum 2013 yang menuntut pengembangan karakter, Permen Kemendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah bahkan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguantan Pendidikan Karakter (ppk)

dari kebijakan tersebut, saat ini pendidikan di seluruh Kabupaten/Kota negara indonesia sedang berupaya berlomba-lomba dalam meningkatkan pendidikaan karakter disekolah guna membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas untuk kemajuan daerah khususnya dan negara umumnya.

Sebagai keseharusan, kabupaten Lebong melalui pendidikan disekolah tentunya juga tengah berupaya melaksanakan peningkatan pendidikan karakter. sebagai kebijakan baru dalam memperbaiki pendidikan untuk tidak tertinggal di era emas pada tahun 2045 mendatang, ada berbagai tantangan bagi kabupaten lebong dalam melaksana peningkatan pendidikan karakter, tantangan itu berupa hambatan yang harus di atasi seperti kurikulum sekolah yang mengacu pada k13 serta kualitas guru dan yang tidak kalah penting ialah menghilangkan angka putus sekolah dan angka tidak pernah sekolah.

Guru yang dalam kegiatan pembelajaran, saat ini dituntut bukan hanya memberi ilmu pengetahuan saja namun bagaimana juga harus memberi contoh keteladanan kepada para siswanya disetiap aktifitas, maka tidak heran jika mentri pendidikan mengangkat tema seminar “membangun pendidikan karakter melalui keteladanan guru” di hari guru nasional pada 25 november 2017 yang lalu. Upaya sekolah dikabupaten Lebong mendorong peningkatan kualitas guru juga terus dilakukan dengan sering mengerimkan para gurunya untuk ikut berbagai pelatihan pengembangan kualitas guru bahkan juga melakukan metode pembinaan guru disekolahnya masing-masing.

Sedangkan kurikulum 2013, dikabupaten lebong saat ini, berdasarkan data Dinas Dikbud kabupaten Lebong baru diterapkan diseluruh sekolah pada bulan Juli 2018, dimana tercatat SD dengan jumlah 92 sekolah dan SMP berjumlah 24 sekolah.

Untuk dapat memahami pembelajaran metode k13 disekolah, pemerintah daerah kabupaten lebong juga menganggarkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) ditahun 2018 untuk kegiatan pelatihan K13 yang diikuti para guru, tinggal lagi memanfaatkan anggaran itu dengan semaksimal mungkin untuk peningkatan pendidikan karakter disekolah. yang tidak kalah penting dari terealisasinya pendidikan karakter disekolah untuk para generasi penerus bangsa di daerah kabupaten lebong ialah menghilangkan jumlah angka putus sekolah. Berdasarkan pada data BPS Lebong tahun 2010 menunjukkan status sekolah diusia sekolah dari umur 5 tahun keatas sebagai berikut:
Penduduk Berumur 5 Tahun Keatas Menurut Kelompok Umur dan Status Sekolah

  1. Keterangan Statatus sekolah:
    1) Konsep definisi

A) Tidak/belum pernah sekolah adalah status sekolah bagi mereka yang sama sekali belum pernah sekolah, termasuk mereka yang telah tamat atau belum tamat Taman Kanak-Kanak tetapi tidak/belum melanjutkan ke Sekolah Dasar.

B) Masih bersekolah adalah status sekolah bagi mereka yang terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di suatu jenjang pendidikan formal.

C) Tidak bersekolah lagi adalah status sekolah bagi mereka yang pernah terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di suatu jenjang pendidikan formal, tetapi pada saat pencacahan tidak lagi terdaftar dan tidak lagi aktif.

2) Keterangan
Bagi mahasiswa yang sedang cuti dianggap masih bersekolah. Bagi siswa SD, SLTP dan SLTA yang baru dinyatakan lulus pada saat pencacahan dianggap masih bersekolah.Mereka yang sedang mengikuti program paket A/B/C setara dikategorikan sebagai tidak bersekolah lagi.Program Diploma I yang masuk kriteria bersekolah hanya program diploma pada pendidikan formal yang dikelola oleh suatu perguruan tinggi.

3) Kegunaan
Penentuan kebijakan berkaitan dengan akses dan pemerataan pendidikan. Informasi yang diperoleh meliputi penduduk yang tidak/belum pernah sekolah, penduduk yang sedang sekolah dan penduduk yang tidak bersekolah lagi khususnya dikaitkan dengan kelompok usia sekolah.
Sumber: Data Sensus Penduduk 2010 – Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.

Data sensus penduduk (BPS) republik Indonesia 2010 itu menunjukkan ada sebagian jumlah penduduk dikabupaten Lebong diusia sekolah namun tidak ikut dalam pendidikan formal serta ada sebagian mengikuti pendidikan formal namun tidak lagi melanjutkan.

Dari sensus itu, jika kita kaji lebih keritis lagi dari usia lima tahun keatas sampai usia sekelompok manusia yang disebut pemuda yaitu dari mur 5 tahun sampai 34 tahun, maka dari data BPS sensus tahun 2010 dikabupaten Lebong menunjukkan angka anak tidak sekolah berjumlah 3.542 jiwa dan putus sekolah/tidak lagi melanjutkan berjumlah 30.160 jiwa, yang ikut pendidikan formal hanya 20.945 jiwa. Artinya, dari jumlah penduduk usia kelompok sekolah yang mengikuti pendidikan formal dari umur 5-34 tahun lebih kecil dari jumlah penduduk yang tidak menerima dan tidak melanjutkan pendidikan dikabupaten lebong yang berjumlah 33.702 jiwa dimana usia sekolah seluruhnya berjumlah 54.647 jiwa

Jumlah angka tidak menerima pendidikan formal secara utuh minimal hingga perguruan tinggi tersebut menjadi sebuah hambatan dan tantangan sendiri bagi pendidikan dikabupaten lebong dalam membangun sumber daya manusia yang berkarakter untuk menuju era emas yang akan datang.

Dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah otomatis tidak menyeluruh tersalurkan pada anak usia sekolah dikabupaten lebong, sehingga menghilangkan angka putus dan tidak melanjutkan pendidikan formal disekolah sudah seharusnya bagi pemerintah daerah sebagai salah satu hal yang penting diperhatikan saat ini dalam penguatan pendidikan karakter untuk tidak menjadi daerah yang tertinggal di negara yang sedang berkembang.

Tidak heran jika pendidikan dikabupaten Lebong sudah terlihat bersungguh-sungguh memperkuat karakter anak melalui pendidikan formal untuk menjaga keutuhan negara kesatuan republik indonesia dan kemajuan negara menjelang generasi emas mendatang.

Dalam pelaksanaanyapun, melakukan penguatan karakter tidaklah cukup dalam dunia pendidikan formal saja, namun berbagai elemen masyarakat dan pemerintah harus bersinergi bersama-sama melakukan penguatan karakter anak.

Tentunya sebagai warga negara indonesia, warganya sangat berharap akan dapat merealisasikan tujuan negar yang telah tercantum dalam teks pembukaan UUD 1945 alenia ke empat.

* Penulis adalah Pengamat Dunia Pendidikan di Kabupaten Lebong

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here