Proses Menikah Muda Mahasiswa : Lewat Prantara dan Pakai “CV” 

0
90

Buat sebagian orang, menikah muda saat masih mahasiswa atau baru lulus kuliah adalah tabu. Namun, bagi sebagian mahasiswa yang ingin segera menyempurnakan separuh agama (Islam), soal perjodohan tak usah ditunggu. Taaruf (berkenalan) melalui perantara atau mak comblang adalah salah satu cara yang bisa ditempuh.

Bagaimana caranya? Indra Kusumah (37), salah satu perantara yang sudah mencomblangkan mahasiswa menikah sejak ia kuliah, menjelaskan proses yang biasa dilakukan mahasiswa yang sudah punya keinginan menikah tersebut.

“Ketika ada mahasiswa/fresh graduate yang menyatakan mau menikah dan minta dibantu, pertama kali biasanya saya lakukan semacam penilaian kesiapannya. Hal ini untuk memverifikasi apakah orang ini betul-betul sudah siap menikah atau baru mau/ingin menikah,” kata Indra.

Menurut Indra ada empat hal yang mahasiswa mesti siapkan sebelum menikah yaitu kesiapaan spiritual (soal ibadah dan keyakinan), pemikiran (ilmu tentang menikah dan rumah tangga), fisik (kesehatan), dan finansial (nafkah dan pendapatan).

“Selain keempat hal di atas, saya juga biasanya memastikan terlebih dahulu dukungan keluarga, terutama orangtua terkait rencana pernikahan anaknya. Jangan sampai orangtua belum setuju anaknya menikah dalam waktu dekat. Bisa bermasalah nantinya,” ujarnya.

Menurut Indra, soal pernikahan ini bukan perkara dua orang yang mau menikah saja. Akan tetapi juga perkara kedua belah pihak orangtua yang akan menjalin hubungan keluarga nantinya.

“Untuk mahasiswa, hal-hal di atas harus dipastikan sejak awal karena tugas utama mereka kan belajar. Jangan sampai pernikahan malah mengganggu pembelajaran mereka sehingga gagal studi,” terang mantan Ketua BEM Universitas Padjadjaran tahun 2005-2006 itu.

Proposal nikah (CV)
Jika persyaratan awal sudah dianggap oke, maka akan dilakukan proses yang selanjutnya yaitu perkenalan menggunakan proposal semacam CV. Siapa yang mengira kalau proposal dibuat hanya untuk perizinan kegiatan kampus semata? Pernikahan nyatanya juga butuh itu.

“Proposal nikah berisi biodata pribadi, gambaran keluarga, kriteria calon, visi misi pernikahan, rencana masa depan pascapernikahan dan lain-lain. Biasanya kita kaji terlebih dahulu proposal nikah yang ikhwan (laki-laki) dan akhwat (perempuan) apakah dari informasi di proposal nikahnya kira-kira ada kecocokan atau tidak,” terang Indra.

Proposal tersebut nantinya akan saling ditukar kepada masing-masing calon jodoh. Umumnya, proposal perempuan akan diserahkan ke laki-laki terlebih dahulu lalu sebaliknya. Bila sudah sama-sama yakin dengan calon pasangannya, biasanya diadakan pertemuan setelah itu.

“Pertemuan tidak boleh hanya berdua, tapi difasilitasi oleh pihak ketiga, dalam hal ini kita (mak comblang/perantara) yang memfasilitasi. Dalam proses taaruf masing-masing saling bertanya jawab menggali berbagai hal, baik yang tertulis di proposal nikah maupun di luar itu yang dianggap penting,” tutur Indra.

Jika proses tersebut dapat dilalui dengan baik, maka masing-masing calon bisa melangkah ke proses selanjutnya saling mengenal keluarga. Di sini kedua belah keluarga bakal berembug untuk proses lamaran dan pernikahan.

Lewat perantara?

Lantas mengapa proses perjodohan ini enggak langsung dilakukan berdua, harus lewat perantara dulu? Bukannya bisa langsung saja menyatakan cinta kepada sang pujaan hati?

“Jadi sebenarnya peran orang ketiga itu untuk mencegah kemaksiatan, kalau misalnya ketemu langsung orangnya, nembak, itu sebenarnya membuka peluang untuk pacaran. Nah, makanya mereka pakai orang ketiga,” terang Ahmad Fakhruddin (32) yang juga sering diminta bantuan menjadi perantara jodoh para lulusan baru kuliah.

Menurut Ahmad, tanpa orang ketiga pun sebenarnya enggak masalah bagi mahasiswa atau lulusan baru untuk menyatakan cinta. Tapi menyatakan cinta harus ditujukan lewat lamaran kepada orangtua calon pasangan langsung.

Sebagian kalangan mungkin ada yang meragukan bagaimana mungkin mereka yang masih mahasiswa atau baru lulus belum mapan bisa menjalani hubungan pernikahan. Namun, Ahmad bersaksi, ada saja rezeki yang tidak diduga-duga setelah orang yang dijodohkannya menikah.

“Misalnya, sebelum nikah mahasiswa (yang dibantu cari jodoh) belum punya pekerjaan jelas, tapi abis nikah tiba-tiba dia diberikan kemudahan jalan dapat beasiswa dan akhirnya jadi dosen. Karena kita percaya, ketika nikah niatnya ibadah maka Allah bakal turun tangan buat bantu kita,” pungkas Ahmad.

Ya, tapi tetap saja, buat kamu yang mau nikah muda harus punya persiapan. Berani nikah muda boleh, tapi enggak boleh nekat. (RED)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here