SABUNG AYAM TEMPO DOELOE DITANAH HAJI

0
181

Agustam Rachman,SH *

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberi contoh buruk bagi kita. Tidak pula bermaksud untuk memberikan citra buruk pada suku Haji terkait praktek judi sabung Ayam. Dari cerita ini kita mengetahui betapa praktek judi sabung ayam begitu keji dan merusak kehidupan masyarakat. Semoga menimbulkan keinsyafan kita agar menjauhi judi.

‘Suh, setungkat si ambon tali,
Remang begantung di awangan,
Tuah pusako anak Haji,
Andolan puyang Rakian’.

Kalimat itu diakhiri dengan menjejakkan kaki kanan ke tanah sebelum ayam SUH (ayam ini bulunya berwarna lengkap,kaki kuning,paruh kuning, ada brewok warna kelabu tipis dibawah paruhnya,sisik kakinya belah siring dari lutut sampai pangkal jari) dilepaskan di arena gelanggang sabung Ayam persawahan Meraki dekat desa Peninggiran.

Kata-kata itu disebut Ceca dalam bahasa Haji. Dimaksudkan untuk memberi semangat pada ayam aduannya juga pemberi semangat bagi mereka yang berada dipihak pendukung Ayam Suh itu. Kata-kata itu juga diharapkan bisa menggetarkan hati pendukung lawan.

Bahkan tak jarang sebelum ayam dilepaskan. Seseorang terlebih dulu ‘nyebut’ (membakar kemenyan didekat gelanggang sabung ayam) tujuannya memberi tahu ruh leluhur bahwa tidak lama lagi ayam akan di adu. Dan minta bantuan leluhur supaya dibantu secara gaib supaya menang.

Di gelangganglah semuanya dipertaruhkan dari uang, harga diri, rasa malu bahkan nama leluhur yang paling dihormati seperti puyang Rakian dan Naga Berisang pun turut diseret-seret ke arena judi.

Di gelanggang judi dan kemusyrikan bercampur jadi satu.

Pada era tahun 60-an ada banyak gelanggang ayam di daerah Haji dan sekitarnya.

Sebutlah misalnya Gelanggang Meraki,Gelanggang Penganjangan (didekat desa Peninggiran) ada juga gelanggang terkenal yaitu gelanggang Batu Beranak di desa Negeri Batin.

Gelanggang sabung ayam tidak hanya diramaikan oleh praktek sabung ayam tapi juga diikuti dg praktek judi kartu dan dadu guncang.

Ada juga para pedagang makanan(lemang ketan dan bubur kolang-kaling menjadi menu favorite di gelanggang) dan minuman. Biasanya para pedagang itu masih memiliki hubungan kekuarga dengan ‘tiang gelanggang’ atau penangungjawab gelanggang.

Pada masa itu dedengkot judi sabung ayam umumnya dari kalangan kelas menengah. Misalnya Ria (kepala desa), Pembarap (setingkat pesirah) bahkan seorang Khatib dari desa Tanjung Menang Ulu/Nambak juga merangkap sebagai Tiang Gelanggang.
(Jaman sekarang jika seorang Khatib berjudi sudah tentu akan dipecat).

Praktek-praktek curang sering terjadi, bisa saja bentuknya persekongkolan dengan tukang bulang (tukang pasang taji) ayam pihak lawan yang akan berlawanan di gelanggang.

Jika sudah ada persekongkolan, berikutnya tinggal ditentukan modus kecurangannya. misal tukang bulang akan memasang pisau taji kwalitas buruk pada ayam pihaknya.

Bisa juga tukang bulang pihak lawan sengaja memasang taji ayam yg sudah patah separoh tapi dilem atau ikatan taji ayam pihak lawan sengaja dilonggarkan saat dipasang.

Tentu persekongkolan itu bertujuan supaya ayam lawan kalah. Dan sudah pasti tukang bulang pihak lawan mendapat bayaran dari pihak yang diuntungkan atas pengkhianatan tukang bulang itu.

Ada lagi metode curang yg sangat halus yaitu dengan cara ‘ayam direpuk’ (ditotok sayap dan kakinya) supaya ayam tidak bisa melompat saat diadu.

Teknik ini dilakukan secara diam-diam biasanya malam hari, tidak diketahui oleh pemilik ayam yang akan direpuk. Tapi sepanjang sejarah sabung ayam kemampuan merepuk ini hanya dimiliki oleh pak Senai dari suku Kisam.

Tentu pak Senai mendapat uang jasa atas keahliannya ini dari pihak yang menang karena jasanya.

Penulis: advokat dan Pemerhati Sosial Budaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here