PARA PENDEKAR KUNTAW DITANAH HAJI

0
383

Agustam Rachman *

Takk…takk dung..takk dung….takk…dung…takkk….takk….dung.

Bunyi suara gendang bertalu-talu, suara gendang itu seolah memanggil orang-orang yang mendengarnya untuk mencari sumber suaranya. Apalagi gendang itu ditabuh oleh Nang Cik (Radin Mulia) seorang penabuh gendang terbaik di Marga Haji.

Sore itu akan ada pertunjukan silat (Kuntaw) dimuka umum (sering disebut : main di tengah). Karena yang berhadap-hadapan adalah Pendekar Kuntaw kelas atas. Membuat panitia harus menunjuk 2 wasit (yang pasti juga Pesilat) masing-masing Mangkualam Umar dan Abdurrachman Radin Kesuma.

Lapangan kecil itu penuh sesak oleh ratusan penonton.
Bahkan banyak anak-anak rela memanjat pohon untuk menyaksikan jalannya pertunjukan.

Ya, sore itu seorang guru Kuntaw yg berasal dari Sukabanjar (suku Daya) menyelesaikan (tamat) pelajaran Kuntaw bagi murid-muridnya didesa Kuripan.

Usman seorang guru Kuntaw dari Desa Sukabanjar itu berhadapan dengan Mangkualam Hamid seorang ahli Kuntaw senior dari desa Kuripan.

Ketika jarak kedua Pesilat terlalu dekat berhadapan, dengan cepat wasit memerintahkan untuk menjaga jarak agar tidak terjadi persentuhan fisik.

Setelah berlangsung lebih kurang 30 menit keduanya mengakhirinya dengan bersalaman sebagai tanda persahabatan.

Mereka berpedoman pada falsafah silat: ‘ silat itu ke atas mencari Tuhan, ke bawah mencari teman’

Para penonton yang terdiri dari lelaki, perempuan bertepuk tangan, mengagumi permainan kedua Pesilat.

Tentu saja sekalipun kedua Pesilat itu berasal dari aliran Kuntaw yg berbeda tapi permainan Kuntaw sore itu tidak bertujuan untuk saling mencelakai.

Acara ditutup dengan makan bersama. Terlihat seorang Pendekar Kuntaw bernama Jamsak mengambilkan nasi untuk Jalang Saka walaupun tadinya mereka berdua berhadap-hadapan dilapangan Kuntaw. Sebuah bentuk persahabatan yang patut diteladani.

Era tahun 70 sampai 80 awal tradisi Kuntaw sangat akrab pada masyarakat suku Haji Kabupaten OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan.

Tradisi belajar Kuntaw (silat) pernah berkembang pesat ditanah Haji. Sama halnya dengan tradisi belajar gitar tunggal batang hari sembilan dan menari.

Silat bagi masyarakat suku Haji selain sebagai alat beladiri juga diposisikan sebagai seni budaya, dulu atraksi silat dan tari silat sering diperagakan pada acara 17 Agustusan.

Sekarang ini dengan berkembangnya alat musik modern tarian silat jarang ditampilkan. hanya sesekali tarian silat (lebih sering disebut tari Tigal) tampil dibelakang pasangan pengantin yang diarak.
Beberapa tokoh tercatat pernah menekuni tradisi Kuntaw bahkan ada yang pernah diberi julukan Hulu Balang Marga Haji. Berikut diantaranya:

MAS GEDUNG
Tidak diketahui nama aslinya, tapi orang memanggilnya Mas Gedung, beliau adalah Pendekar generasi paling tua di Tanah Haji. Beliau lahir di Desa Karang Pendeta. Silatnya beraliran Melayu, dipercaya memiliki kesaktian tinggi yg didapat dari Berkhalwat atau Bersemedi (bertapa dalam tanah seperti dikubur).

Salah satu kelebihan beliau, jika duduk dibawah pohon duku yang sedang berbuah masak dan lebat lalu dahan duku digoyang. Tidak satupun buah duku yg jatuh mengenai tubuh beliau.

Sepintas fisik beliau terlihat lamban,matanya sebelah tidak bisa melihat, berjalan dengan kaki agak mengangkang, tubuhnya agak bungkuk. Tapi jika sudah bermain silat tubuhnya gesit dan lincah.

Beliau tidak memiliki anak lelaki, namun demikian anak perempuannya yang bernama Sedah dan Suri menguasai Kuntaw warisan ayahnya.

Semasa hidupnya beliau mengajar silat dibanyak tempat. Saat ini penerusnya adalah cucunya yaitu Maulana dan Mastulin didesa Karang Pendeta.

JALANG SAKA ( ABU NAWAS)
Berasal dari Desa Karang Pendeta. Beliau seorang pendekar Kuntaw sejak era Belanda.

Beliau berguru pada banyak Pendekar Kuntaw salah satunya pada Refik orang Sunda dari Sipatuhu Ranau yg menguasai silat Cimande.

Dizaman pemerintahan Pangeran Jamil Pesirah Marga Haji, Jalang Saka pernah diadu dengan pengawal Pembarap Tanjung Iman. Jalang Saka unggul dalam pertarungan itu. Sehingga beliau mendapat julukan Hulu Balang Marga Haji. Aliran silat beliau adalah Kuntaw Melayu.

Tubuhnya tinggi besar, sikap dan tempramen Jalang Saka dikenal keras dan terkenal pemberani.

Semasa hidupnya beliau rutin mengajar Kuntaw, muridnya banyak. Saat ini penerusnya di Desa Karang Pendeta adalah Jamil.

JAMSAK
Perawakannya kecil dan berkulit gelap. Beliau berasal dari tanah Sunda. Menikah dengan perempuan dari Desa Surabaya Haji.

Menguasai aliran silat Cimande, masa lalunya malang melintang didunia hitam sebelum menetap di Desa Surabaya.

Beliau terkenal kebal senjata tajam dan benda tumpul. Suatu hari saat hari Kalangan (hari pasar) di Kuwal pernah ditanduk sapi gila sampai tubuhnya terjepit didinding rumah tapi jangankan luka, lecet pun tidak nampak pada tubuhnya. Memiliki keahlian pengobatan patah tulang.

Beliau tidak memiliki anak laki-laki. Beliau bersumpah untuk tidak mewariskan ilmu kebalnya. Sebab menurut beliau ilmu itu ‘panas’ dan dapat berakibat buruk bagi pemegangnya.

Tidak ada keturunan atau muridnya yang menjadi penerus keahlian silat Jamsak.

MANGKUALAM (HAMID).
Berasal dari Desa Kuripan,
Sejak muda merantau ke daerah Palas Lampung Selatan.

Aliran Kuntaw beliau disebut Kuntaw ‘Pergaulan’. Beliau berguru pada Tunip (berasal dari Bengkulu) saat di Palas.

Tahun 1950 beliau pulang ke Desa Kuripan dan mengajar banyak murid.

Tidak pernah terdengar beliau memiliki musuh seteru. Bahkan semua Pendekar Kuntaw diantaranya Jalang Saka dan Jamsak bersahabat dan saling mengakui bersaudara dengan beliau.

Dikenal sebagai pribadi yg sabar. Beliau juga ahli dalam bidang pengobatan tradisional, pada masa itu jika ada bayi lahir dan diberi nama Hamid biasanya itu adalah penghormatan kepada beliau sebab orang tua bayi tersebut berobat kepada beliau untuk mendapat keturunan.

Saat ini penerus Kuntaw dan pengobatan tradisional warisan beliau adalah Musa di desa Kuripan.

PRABU(CIK AGUS)
lahir dan besar di desa Lubar, setelah menikah pulang ke desa Kuripan sebab ibunya yg bernama Mace berasal dari Desa Kuripan.

Selain ahli pengobatan patah tulang, beliau menguasai 3 aliran silat dari tatar Sunda yaitu Cimande, Cikalong dan Pamonyetan. Beliau belajar pada Sardi orang Sunda yg menetap di Lubar.

Pribadinya keras dan pemberani. Walaupun masih muda tapi pernah hampir ‘bertarung’ dengan Jalang Saka seorang guru Kuntaw yg bergelar Hulu Balang Marga Haji.

Peristiwa itu terjadi saat sama-sama menghadiri acara penutupan (tamat) Kuntaw di Petalangan Sengguloh Desa Kuripan. Untung seseorang membisiki Jalang Saka bahwa Prabu adalah adik sepupu
Mangkualam Hamid (ibu mereka bersaudara kandung). Sehingga Jalang Saka membatalkan rencana pertarungan itu.

Ketika ditanya mengapa dia berani jika ditantang bertarung berhadapan dengan Jalang Saka, jawabnya singkat: soal keahlian silat masing-masing ada kekurangan dan kelebihan. Tapi soal nafsu (nyali), semuanya harus diuji.
Sebuah jawaban yang menunjukkan seorang Pendekar tak takut mati.

* Penulis adalah pemerhati sosial dan advokat

Foto : diperagakan model

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here