TRADISI NYIALANG (MENGAMBIL MADU LEBAH) PADA SUKU HAJI SUMATERA SELATAN

0
343

Agustam Rachman *

“Hai ading,
Sangkan lambat menenun baju,
Masih nenun sampul tangan,
Sangkan lambat kita betemu,
Lagi besirak lagi bedendan”

Itulah syair pembuka ketika Bujang Piawang (sebutan untuk orang2 yang ahli/naik mengambil madu) akan memulai panen madu lebah hutan atau Nyialang.

Sebutan Ading (adik) ditujukan untuk lebah madu sebagai kata penghormatan.

Syair itu bermakna pujian dan pamit kepada lebah yang madunya akan diambil.

Yang pasti senandung syair itu juga bertujuan agar Bujang Piawang tidak mengantuk.

Maklum saja, Sebab prosesi panen madu berlangsung 3 -4 jam dilakukan tanpa tali pengaman,tanpa lampu penerang dan dimulai pukul 09.00. Saat malam gelap tanpa sinar rembulan.

Pohon yang dihinggapi lebah madu disebut Sialang, rata2 tingginya mencapai 60 meter.

Jenis pohon yang sering dihinggapi oleh lebah madu ada beberapa macam diantaranya : tendikat, gula-gula, hara gatal, labu atau kayu ara.

Pohon-pohon itu bisa sebut Sialang setelah pohon itu mulai dihinggapi lebah madu.

Dahulu kala ada kepercayaan, sebelum Nyialang harus didahului dengan ritual Nyebut .Yaitu membakar kemenyan dengan menaruh sesajian telur rebus dan nasi kuning dibawah pohon.

Ritual itu dipercaya akan memperlancar proses Nyialang. Sebab dipercaya pohon itu ada makhluk halus penunggunya.

Sampai sekarang pengambilan madu lebah masih dilakukan secara tradisional. Dilakukan berkelompok, sedikitnya 5 orang.

Sebagian naik pohon untuk mengambil madu,
Sisanya bertugas dibawah menyambut kaleng hasil panen madu yg diturunkan dengan tali dari atas.

Tangga tempat Bujang Piawang berpijak disebut panting. Yaitu bilah 30 cm sejempol tangan orang dewasa berbahan pangkal bambu betung tua kering.

Panting tersebut ditancapkan dengan palu kayu (catuk) saat malam pengambilan madu dimulai dari bawah pohon sampai ke dahan yg paling tinggi yg ada sarang lebahnya.

Pembagian hasil panen madu sialang 1/3 untuk pemilik pohon 1/3 untuk Bujang Piawang dan 1/3 untuk yang menunggu atau membantu dibawah pohon.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal ada rumusnya, dihitung 21 hari sejak lebah hinggap dipohon Sialang.

Bujang Piawang hanya membawa Sela dan kaleng yang diikat tali rotan (Sela adalah tutup bunga kelapa yang kering, dibelah-belah kecil, diikat seperti sapu lidi).

Saat ujung dinyalakan lalu diusapkan ke sarang lebah seketika itulah para lebah beterbangan.

Lalu ujung Sela dipukulkan ke dahan, bunga apinya jatuh ke tanah. para lebah terbang menyusul bunga api yg tersisa hanya sarang lebah berisi madu dan ulat anak lebah.

Hanya Bujang Piawang yang boleh menyalakan api. Orang-orang dibawah dilarang, jika tak siap resiko diserbu lebah yang marah.

Tak terasa waktu telah lewat tengah malam. Berkaleng2 madu dan ulat anak lebah diturunkan, panen pun usai sudah.

Saat masih diatas, Bujang Piawang mengucapkan syair perpisahan dg suara keras :
‘Nginjam kapak
Nginjam beliung
Nginjam perapas kiliran taji
Tinggallah kakak
Tinggallah ading
Tinggallah segala kerindu hati’

Sambil beringsut turun dia lanjut bersyair:

‘Kayu sialang damamu kayu
Tumbuh diperemping tebing
Kami bayak ngaturkon tangguh
Tahun datang kami kesini lagi’.

Syair itu juga menjadi kode bagi mereka yg dibawah bahwa proses Nyialang sudah selesai.

Tak sabar Bujang Piawang ingin segera tiba dipondok kebun masing-masing. Menikmati ulat anak lebah dicampur madunya.

Pun tak sabar dia ingin bertemu istrinya untuk mencabuti sengat lebah sebab (sebenarnya selama diatas pohon) puluhan sengat bersarang dikepala.

* Penulis adalah pemerhati sosial dan berasal dari suku Haji OKU Sumsel

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here