Legenda tentang Bakas Jamat

0
220

Agustam Rachman*

Generasi yg lahir diera tahun 70-an dan sempat menghabiskan sekolah di desa Kuripan, Peninggiran atau Surabaya Kabupaten OKU Selatan banyak yang mengenal bakas (kakek) Jamat.

Kisah beliau unik dan banyak yang dapat diambil hikmahnya.

Beliau lahir didesa Padang Bindu Semidang Aji Ogan sejak muda pindah ke Kuripan Haji.
Beliau bisa baca tulis walaupun tidak pernah mengenyam sekolah formal.

Orang Haji tidak mengatakan orang ogan ulu merantau jika ada orang ogan yg pindah ke tanah Haji.tapi orang haji menyebut orang ogan ulu itu pulang kampung.

Sebab antara orang ogan ulu semidang aji dengan orang Haji selabung memang memiliki hubungan darah nenek moyang. Terbukti salah satu desa di ogan ulu ada namanya desa Gunung Kuripan.

Menurut riwayatnya orang-orang ogan ulu adalah orang Suku Haji yg merantau (midang) makanya nama kecamatan mereka sekarang disebut Semidang Aji.

Oya kembali ke soal bakas Jamat. Saya tidak begitu mengenalnya secara dekat. Padahal kami masih keluarga.
Waktu itu saya sempat heran kok bisa kami punya hubungan keluarga dengan bakas Jamat

Dulu tahun 60-an saat awal-awal keluarga bakas Jamat pindah ke desa Kuripan mereka tinggal menumpang dirumah bakas agustam radin priyayi.

Belakangan baru saya diberi tahu ternyata ibu bakas Jamat pernah menikah dengan eyang saya yg bernama Abdurrahman. Sekalipun tidak ada keturunan karena duda dan janda yg sama-sama tua tapi hubungan keluarga kami dengan keluarga bakas Jamat rukun dan akrab laksana saudara kandung

Bakas Jamat berbadan gempal, dileher bagian belakangnya ada benjolan sebesar telur ayam. Mirip punuk sapi.

Jarang sekali beliau memakai baju. Sehari-hari hanya menggunakan celana sebatas lutut berbahan karung terigu. Paling beliau menambah dandanannya dengan kain sarung dilingkarkan di leher.

Keseharian beliau kebanyakan dirumah kecil di Cukuh sebab beliau adalah penjaga mesin listrik desa yg terletak di Cukuh desa Kuripan.

Kadang beliau juga ke kebun. Beliau banyak dimintai bantuan oleh warga untuk memperbaiki alat elektronik seperti radio ,tape atau mesin giling kopi/padi

Bahkan warga dari luar Kuripan pun banyak yg datang meminta bantuan beliau dalam hal jasa service.

Saya pernah melihat langsung ada radio dirumahnya tapi tuning pengatur prekuensi gelombangnya terbuat dari tutup odol. Saya tersenyum geli melihatnya. Saya kagum dengan ide dan kecerdasan beliau dalam memanfaatkan barang-barang bekas.

Beliau juga punya keterampilan dalam hal pertukangan. Uniknya kalau beliau mengaduk semen dengan pasir beliau menggunakan tangannya untuk mengaduk.tidak ada kerusakan pada tangannya walaupun seharian bersentuhan dengan adukan semen basah.

Menjadi montir mobil pun beliau sanggup. Bahkan para sopir mobil jurusan muaradua segan mengambil ongkos ke bakas Jamat sebab mereka juga sering meminta bantuan bakas Jamat memperbaiki mobilnya.

Bakas Jamat juga seorang ‘dokter gigi’ anehkan?Kalau dia akan mencabut gigi orang yg sakit .
Dia suruh orang tu mengangakan mulut.

Lalu dia tanya yg mana yang mau dicabut sambil tangan kanannya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya membuat posisi seolah-olah akan menjepit.

Orang yang hendak dicabut giginya sibuk menjelaskan letak gigi yang mau dicabut.

Padahal saat itu gigi orang itu sudah dipegang bakas Jamat dijari tangan kiri. Gigi orang itu tercabut tanpa dia sadari

Beliau juga ahli membuat senapan kecepek untuk berburu rusa.
Banyak orang memesan pada beliau. Pembuatan kecepek hanya menggunakan teknik manual. Misalnya bor tangan untuk melubangi laras senapan yang berbahan besi stir mobil jeep.

Bakas Jamat pernah telapak tangannya tertembus bor manual waktu membuat senapan kecepek. Seketika bakas Jamat berpekik melompat masuk hutan.

Sekitar 10 menit dia kembali lagi ke pondok.
Dia tidak lagi kesakitan, memang masih ada bekas luka tapi tidak lagi mengeluarkan darah.
Dan dia langsung melanjutkan pekerjaannya membuat senapan kecepek, seolah-olah tidak terjadi apa-apa

Dulu bakas agustam radin priyayi pernah dipanggil panglima kodam II sriwijaya supaya menghadap komandan PM di baturaja 1×24 jam harus datang sejak surat panggilan diterima.

Bakas agustam radin priyayi difitnah terlibat G.30.S PKI. Sebuah tuduhan yang tidak main-main saat itu.

Biasanya jika orang panggil dengan tuduhan seperti itu maka alamat akan mendapat musibah besar. Bisa-bisa nyawa melayang atau penjara bertahun-tahun.
Tanpa pengadilan.

Ditemani oleh bapak saya selanjutnya berangkatlah bakas agustam radin priyayi ke baturaja menghadap Komandan PM.

Setelah menghadap komandan PM ternyata komandan PM itu pernah bertugas di desa Peninggiran saat revolusi fisik 47-49. Dan syukurnya Komandan PM itu masih mengenal bakas agustam radin priyayi.

Bukan proses pemeriksaan atau verbal yg terjadi. Malah mereka bernostalgia. Komandan PM itu menanyakan kabar Dung Hamidi yang sama-sama aktif dengan bakas agustam radin priyayi di Partai Serikat Islam Indonesia.

Tiba-tiba pintu diketuk dan masuk prajurit PM melapor bahwa ada orang memaksa ingin menghadap komandan PM. tentu Komandan kaget, siapa orang itu? lalu dipersilakan orang itu masuk.
Ternyata…
Beliau adalah bakas Jamat

Kekagetan komandan PM bertambah takkala melihat bakas Jamat tidak memakai baju dan tanpa alas kaki.

‘Jamat lain kali kalau mau kesini pakai baju dan sendal’ sambil komandan PM itu tersenyum memeluk bakas Jamat.

Ternyata komandan PM itu orang ogan ulu serta masih kerabat dekat dg Bakas Jamat.

Apalagi bakas Jamat banyak berjasa membuatkan senapan kecepek untuk para pejuang saat perang mempertahankan kemerdekaan.

Bakas Jamat beralasan tidak sempat pakai baju dan sendal saat berangkat ke baturaja. beliau sangat khawatir dg keselamatan bakas agustam radin priyayi. (padahal tidak pakai baju dan sendal memang gaya bakas Jamat)

Setelah selesai ngobrol dan minum kopi akhirnya bakas agustam radin priyayi,bakas Jamat dan bapak saya dipersilakan pulang.

Komandan PM itu menyiapkan sepucuk pistol utk dibawa bakas agustam radin priyayi dengan pesan supaya menembak tukang fitnah itu.

Bakas agustam menolaknya. Dengan setengah bergurau menjawab bahwa banyak senapan kecepek di desa Kuripan made in Bakas Jamat.

Yogyakarta, 12 Nop 2018.

Tulisan ini kupersembahkan untuk saudaraku Nuraini Rachman yang hari ini ulang tahun ke 47.
Semoga sehat senantiasa. Aamiin

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here