Aktivis 98 Angkat Bicara, Khusus Tuntutan Mahasiswa IMM Agar TNI Ambil Alih Kekuasaan Negara

0
59

BengkuluKito.Com, – Pasca aksi unjuk rasa mahasiswa IMM ke Gedung DPRD Propinsi Bengkulu, Senin (16/9/2018) ditanggapi beragam komponen masyarakat. Bahkan beberapa komentar dari aktivis reformasi 1998 merasa terkejut atas salah satu point tuntutan mereka.

Hal senada juga disampaikan Agustam Rachman, salah satu mantan Aktivis 1998 yang pernah memperjuangkan agenda reformasi melalui aksi-aksi di Propinsi Bengkulu saat reformasi 98.

Menurut Agustam, teman-teman mahasiswa mestinya mengetahui bagaimana perjuangan dan aksi-aksi yang dilakukan saat reformasi 98 dulu penuh darah dan banyak korban untuk mendesak salah satu tuntutan reformasi agar Dwi Fungsi ABRI dihapuskan.

“Saya masih ingat apa yang disampaikan Che Guevara, ketika masih berstatus mahasiswa kedokteran, Che Guevara yang seorang revolusioner dari kuba menolak protes/demo. Dia hanya membutuhkan sepucuk pistol. Dia sadar perubahan tidak lahir dari air liur basi. Tapi lahir dari ujung bedil” kisah Agustam Rachman.

Ditambahkan Agustam, mengapa Che berprinsip seperti itu, karena untuk melawan Junta Militer tidak bisa dilakukan demonstrasi atau Protes, karena negara dikuasai militer.

“Jadi jangan sempat negara ini sekali saja di kudeta militer atau diambil alih kekuasaan tentara, maka tidak akan bisa lagi mahasiswa melakukan demonstrasi atau protes seperti adik-adik IMM” sesal Agustam Rachman, yang berprofesi advokat ini.

Menurut analisis Agustam, aksi mahasiswa ini berbeda dengan aksi-aksi yang dia lakukan saat agenda reformasi 98.

“Tuntutan agar TNI mengambil alih kekuasaan negara mirip karakter tuntutan aktivis eksponen 66, itu mental aktivis 66 yang sekongkol dengan ABRI dibawah kendali Suharto untuk mendongkel kekuasaan Sukarno. Mereka Berharap dapat jabatan seperti Cosmas Batubara, Yusup Wanandi dan lain-lain,” urainya melalui pesan WhatsApp.

Agustam berharap gerakan mahasiswa hari ini harus objektive tanpa ditunggangi oleh siapapun bahkan Capres-Cawapres yang bertarung pada Pemilu 2019 nanti.

“Kita biasa menyusun statement dalam aksi-aksi, membaca statement itu ada kepentingan salah satu pihak kita biasa, Mudah-mudahan kawan-kawan mahasiswa bisa objektive dalam mengusung issu tanpa intervensi siapapun dalam mengkritisi situasi bangsa ini” tutup Agustam Rachman.(CW2)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here