SANDIAGA UNO MENGGELAPKAN PAJAK ???

0
121

Apakah kamu pernah mendengar istilah “Panama Papers” dan “Paradise Papers” ?

oleh

HENDRA BUDIMAN *

Panama Papers adalah istilah yang dibuat oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Bersumber dari data Mossack Fonseca. Sebelum ICIJ mempublikasikan para pengusaha penggelap pajak, media di Jerman Suddeutsc

he Zeitung telah mewartakan terlebih dahulu.

Nama Sandiaga Uno tercantum dalam daftar klien Mossack Fonseca yang berasal dari Indonesia. N

amanya menjadi salah satu yang cukup dikenal, selain nama Mochtar Riady dan Mohammad Riza Chalid.

Sandiaga berdalih bahwa kerjasama dengan perusahaan offshore service seperti Mossack Fonseca merupakan hal yang lumrah guna mendukung pertumbuhan bisnis, “Dalam proses investasi dan, sangat lazim menggunakan offshore service” ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, (5/4/2016). Namun, ketika dikonfirmasi lebih lanjut mengenai keberlangsungan kerjasama dengan Mossack Fonseca, Sandiaga menyatakan sudah tidak berkepentingan lagi.

Dokumen Mossack Fonseca juga mencatat 214 ribu entitas perusahaan di luar negeri. Mossack Fonseca sendiri memiliki cabang di lebih dari 35 negara. Dokumen itu menyebutkan nama 140 tokoh politik, termasuk 12 pemimpin atau bekas pemimpin negara.

Di antara nama yang muncul adalah saudara putri mantan perdana menteri China Li peng, Li Xiaolin, cucu dari petinggi Partai Komunis China, Jia Qinglin, putra dari Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Mohd Nazifuddin bin Mohd Najib, anak-anak dari Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, Presiden Ukraina, Raja Arab Saudi dan Perdana Menteri Islandia.
Bocoran dokumen ini menyiratkan modus pengemplangan pajak dan pencucian uang.

Selain itu, IJCU juga merilis laporan “Paradise Papers” yang mengungkapkan data orang-orang kaya di seluruh dunia yang menanamkan investasinya melalui perusahaan cangkang (offshore) di luar negeri untuk mendapat pajak rendah atau tidak membayar pajak.

Laporan tersebut di antaranya menyebutkan Sandiaga memiliki perusahaan cangkang bernama N.T.I Resources. Sandiaga juga sebelumnya tercatat memiliki beberapa perusahaan cangkang di British Virgin Islands dalam dokumen Panama Papers.

Perusahaan cangkang yang disebutkan dalam Panama Papers yang pernah terkait dengan Sandiaga Uno yakni Arrosez Ltd dan Praeo Ltd yang berkedudukan di British Virgin Island. Kedua perusahaan ini memiliki Acuatico Ltc, yang 80% sahamnya dimiliki oleh PT Recapital Advisors.

Sandiaga Uno dan Rosan Roeslani merupakan dua pemegang saham Recapital Advisors. Lewat Acuatico ini Sandiaga dan Rosan memiliki 100% PT Aetra Indonesia yang mengelola air bersih untuk kawasan timur Jakarta.

Salah satu pendiri ICIJ, Andreas Harsono mengatakan dokumen Paradise Papers berbeda dengan Panama Papers dari sumber dokumen. Sumber dokumen Paradise Papers bocoran dari firma hukum yang membantu pembuatan transaksi bisnis di Cayman Islands atau Bermuda. “Appleby lebih elit dibandingkan Mossack Fonseca (sumber dokumen Panama Papers), sehingga hanya segelintir orang Indonesia yang menggunakan jasa firma hukum Appleby,” kata Andreas.

Andreas mengatakan data Paradise Papers lebih sedikit memuat orang-orang kaya di Indonesia dibandingkan dalam Panama Papers. “Biaya jasa Appleby lebih mahal dibandingkan Mossack Fonseca,” katanya.

Dokumen Paradise Papers ini diperoleh oleh wartawan surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung sekitar tahun 2016, kemudian wartawan tersebut meminta ICIJ untuk melakukan penyelidikan bersama.

Andreas mengatakan penggunaan perusahaan cangkang di negara surga pajak seperti Cayman Islands, secara moral dipertanyakan, karena kegiatan ini berpotensi menyembunyikan pajak

Mossack Fonseca merupakan perusahaan firma hukum asal Panama yang memafasilitasi perusahaan agar usahanya bisa bebas pajak. Mossack Fonseca menjajakan kerahasiaan finansial kepada politikus, penipu, mafia narkoba, sampai miliuner untuk mendirikan perusahaan di negara surga bebas pajak seperti Panama atau British Virgin Island.

Mossack selama ini menjamin semua kerahasiaan transaksi usaha agar tidak terdeteksi oleh negara manapun. Sehingga ini memungkinkan seorang pengusaha mencuri dari negara atau penipuan tanpa diketahui.

Dari Indonesia sendiri ada 2,961 nama perusahaan atau individu yang terdaftar sebagai klien Mossack. Artinya, ada 2,961 perusahaan yang selama ini tidak bayar pajak, dengan kemungkinan melalukan korupsi, penipuan dan tindak kejahatan lainnya.

Dari sekian banyak perusahaan, ada nama yang sudah sering dicurigai seperti James Riadi, pemilik Lippo Grup, tercatat sebagai pemegang saham Golden Walk perusahaan bebas pajak yang didirikan di British Virgin Island.

Nah yang menjadi sorotan tentu adalah Sandiaga Uno. Pengusaha kelas kakap ini juga menjadi klien Mossack

Setidaknya ada tiga perusahaan offshore yang terkait dengan Sandiaga: Aldia Enterprises Ltd, Attica Finance Ltd, dan Ocean Blue Global Holdings Ltd. Ketiganya didirikan berurutan sejak 2004 sampai 2006. Sandiaga Uno juga tercatat di 5 perusahaan seperti yang terlihat di gambar.

Berhubung sudah bocor, Sandiaga Uno mengaku memang berniat untuk membukanya jika memang jadi maju sebagai Cagub (2016).

“Saya memang punya rencana membuka semuanya karena saya sekarang dalam proses mencalonkan diri menjadi pejabat publik,” kata Sandiaga Uno saat maju sebagai Calon Wakil Gubernur Jakarta 2016. Namun, hingga saat ini, Sandiaga mundur dari Wakil Gubernur DKI Jakarta dan maju sebagai Calon Wakil Presiden, Sandiaga tidak pernah (mau) mempublikasikannya.

Untuk diketahui, semua perusahaan dalam list Mossack adalah perusahaan yang tidak bayar pajak karena memang didirikan di negara surga bebas pajak Panama atau British Virgin Island.

Sampai di sini, Sandiaga Uno sepertinya tidak baik bagi Jakarta dan Indonesia. Sekalipun Sandiaga Uno katakanlah melalukan bisnis legal, namun di sekelilingnya adalah mafia kelas dunia dan bersama-sama tidak membayar pajak. Kemungkinan Sandiaga Uno dugaan untuk korupsi dan segala tindakan ilegal lainnya menjadi lebih tinggi ketimbang kandidat lain yang tidak termasuk sebagai klien Mossack. Persepsi masyarakat soal ini tidak bisa dihentikan untuk alasan apapun.

Jika Indonesia memiliki 2,961 perusahaan Indonesia tidak bayar pajak, maka wajar kalau penerimaan pajak kita sering kurang dan rendah, tidak sesuai dengan banyaknya usaha serta perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Data Mossack yang bocor berisi informasi soal Mossack dan klien-kliennya sejak 1977 sampai awal 2015. Keberadaan data ini memungkinkan publik mengintip bagaimana dunia offshore bekerja dan bagaimana fulus gelap mengalir di dalam jagat finansial global.

Salah seorang pendiri Mossack, Ramon Fonseca, menegaskan bahwa perusahaannya tidak punya tanggung jawab atas apa pun yang dilakukan kliennya dalam menggunakan perusahaan offshore yang dijual oleh Mossack.

Memiliki perusahaan di suaka pajak memang seharusnya menjamin kerahasiaan identitas Anda. Karena itulah, selain pebisnis yang berani mengambil risiko, longgarnya aturan registrasi di suaka pajak umumnya menarik minat gembong pencucian uang, koruptor,  penyelundup narkoba dan aktor kriminal lain yang tertarik menbangun korporasi di kegelapan.

Perusahaan offshore, kadang disebut “cangkang”, karena tidak punya karyawan dan tidak punya kantor, kerap menjadi bagian dari stuktur rumit upaya penghindaran pajak.

Brooke Harrington, penulis buku “Modal tanpa Perbatasan: Manajer Kekayaan dan Kaum 1 Persen” menilai keberadaan industri offshore membuat “kaum miskin makin miskin dan memperlebar jurang perbedaan kaya-miskin”.

Keberadaan perusahaan offshore membuat ada sekelompok kecil orang yang tidak sama kedudukkannya di mata hukum, seperti semua dari kita, dan itu dilakukan dengan sengaja,” katanya lagi.

Sebagai gambaran, bocoran data ini berhasil mengungkap jejak pembelian pesawat mata-mata oleh pemerintah United Arab Emirates, jejak perusahaan pembuat peledak di Barbados yang dimiliki seorang insinyur Kanada yang ingin membuat “super gun” untuk diktator Irak Saddam Hussein dan jejak perusahaan Bermuda milik almarhum Marcial Maciel Degollado, pendeta Meksiko berpengaruh yang mendirikan ordo Katolik Legiun Kristus (Legionaries of Christ).

Data Paradise Papers juga mengungkap gaya hidup kaum jetset global. Pendiri Microsoft Paul Allen misalnya, terungkap memiliki kapal yacht dan kapal selam. Sementara pendiri eBay Pierre Omidyar dan selebriti Madonna memiliki saham di perusahaan penyedia jasa medis. Vokalis U2, Bono – yang menggunakan nama aslinya Paul Hewson – memiliki saham di perusahaan Malta yang berinvestasi di Lithuania.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan pemerintah Indonesia masih akan sulit menjadi motor penggerak pembangunan. Sebab kesadaran pembayar pajak di Indonesia masih rendah, termasuk para calon pemimpin.

Faisal mengatakan tax ratio di Indonesia sampai saat ini baru 12,1 persen. Angka ini tidak akan bisa mendorong pembangunan di Indonesia yang nilai investasinya mencapai Rp 1.500 triliun per tahun.

Menurutnya, minimnya pembayar pajak membuat  peran pemerintah dalam investasi maksimal hanya Rp 160-200 triliun per tahun. “Jumlah ini bisa dinaikkan, kalau pajak kita dinaikkan lima kali lipat,” katanya. Namun Faisal ragu, kalau kenaikan ini bisa dilakukan.

Orang banyak bicara ekonomi neo liberal dan kerakyatan, tapi tidak paham intinya. Capres dan cawapres kita itu tidak ada yang bicara ekonomi ini, yang bicara itu sebenarnya petarungan kubu ekonom dibalik mereka,” kata dia.

Soal kejahatan dan pengelapan pajak oleh Sandiaga Uno ini, kita bisa belajar dari negara Islandia.

Islandia mengumumkan percepatan pemilu parlemen. Hal itu dipicu pengungkapan skandal lewat Panama Paper, yang memaksa Perdana Menteri Sigmundur Davíð Gunnlaugsson mundur April 2016

PM Gunnlaugsson adalah petinggi negeri pertama yang terjungkal setelah keluarnya dokumen yang mengungkap penggelapan pajak global itu. Pengungkapan itu memicu aksi protes besar-besaran yang jarang terjadi di Islandia. Meski PM-nya mundur, pemerintahan masih tetap berjalan.

Kami berniat menggelar pemilu pada 29 Oktober 2016,” kata Sigurður Ingi Jóhannsson, pengganti Gunnlaugsson, Kamis, 11 Agustus 2016. Dia meminta para pemimpin partai di parlemen menyetujui percepatan pemilu enam bulan dari jadwal semula.

Apakah itu akan terjadi di Indonesia ??? Semoga ada pembelajaran untuk konsistensi dalam berkontribusi untuk bangsa dan negara, semoga pula Sandiaga Uno membuktikan janjinya dalam membuka persoalan riwayat pengemplangan pajak, karena saat ini bukan lagi menjadi Wakil Gubernur namun menjadi Wakil Presiden.

  • HENDRA BUDIMAN adalah seorang pegiat sosial komunitas dan aktiv dalam penulis analisis sosial dan hukum.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here