Perayaan Tabut: Dari Tradisi Menjadi Festival Budaya

0
10

Oleh : Agustam Rachman, MAPS.

BengkuluKito.Com, – Tradisi adalah suatu kebiasaan yang teraplikasikan secara terus-menerus dengan berbagai simbol dan aturan pada sebuah komunitas.

Dalam Islam, tradisi disebut al-urf yaitu apa-apa yang telah menjadi kebiasaan manusia, mereka tunduk kepadanya dalam persoalan hidup, sehingga mereka merasa tidak asing dengannya dan mereka menerimanya dengan jiwa yang tenang. (Al-Qardlawi, Yusuf, Keluasan dan Keluwesan Hukum Islam, Terj : Agil Husin Al Munawar, 1993:19).

Awal mulanya dari sebuah tradisi adalah ritual-ritual individu, kemudian disepakati oleh beberapa kalangan dan akhirnya diaplikasikan secara bersama-sama dan bahkan tak jarang tradisi-tradisi itu berakhir menjadi sebuah ajaran, para pengikutnya percaya, jika tradisi itu ditinggalkan akan mendatangkan bencana.

Demikian juga di masyarakat Bengkulu terdapat berbagai tradisi yang teraplikasikan di antaranya tradisi Tabot. (Dahri, Harapandi, Tabot, (Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu) 2009:45).

Penduduk Kota Bengkulu awalnya adalah suku bangsa Melayu yang telah memiliki tradisi yang meliputi adat-istiadat, kesenian, sastra, seni arsitektur, dan sistem kelembagaan.

Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan-kebiasaan sosial kemasyarakatan mereka sehari-hari termasuk dalam upacara-upacara adat, baik adat perkawinan, adat waris dan sistem keturunan.

Adat istiadat yang mendominasi pelaku-pelaku sosial Kota Bengkulu sejak dulu adalah adat Melayu, yang telah dijunjung tinggi dan coba dipertahankan oleh suku bangsa asli daerah ini sejak awal perkembangannya hingga sekarang.

Dalam perkembangannya, berangsur-angsur Kota Bengkulu didatangi oleh berbagai suku, antara lain : suku Jawa, Minang, Aceh, Palembang, Lampung, Tionghoa dan sebagainya.

Komunitas ini terbawa dan beradaptasi dengan penduduk lokal, dengan tidak membedakan agama dan keyakinannya, masing-masing mereka saling menghormati.

Sepanjang sejarah di Kota Bengkulu belum pernah ada konflik horizontal maupun konflik terbuka antar suku, atau konflik antar aliran keagamaan.

Bahkan sampai saat ini kelompok Ahmadiyah dapat tumbuh dan berkembang di Bengkulu tanpa ada gangguan. Karena mereka menyadari akan pentingnya arti persaudaraan dan toleransi yang akhirnya akan bermuara pada kerukunan antar masyarakat.

Situasi harmonis ini oleh pemerintah, tokoh masyarakat, dan semua elemen masyarakat dipertahankan dengan berbagai macam aktivitas lokal yang spesifik dan unik, antara lain turut berperan serta dalam “Perayaan Upacara Tabot”.

 

Sosial Budaya dan Ritual

Tabot saat ini menampilkan wajah ‘bermuka dua’, di satu sisi ritual yang sarat dengan tuntunan hidup dan di sisi lain merupakan tontonan (sekuler), namun kenyataan ini tidak perlu dirisaukan. Karena gejala semacam ini wajar terjadi, di tengah derasnya pengaruh budaya asing yang masuk ke Indonesia.

Proses modernisasi dan perubahan sosial masyarakat akan berdampak pula pada prilaku dan nilai-nilai yang hidup ditengah masyarakat tersebut. Mengingat bahwa masyarakat senantiasa bergerak dinamis seiring dengan proses kehidupannya.

Namun demikian seni budaya tradisional harus mampu menyesuaikan dirinya sesuai tuntutan zaman, sebab kalau tidak, justru tradisi itu lama-kelamaan akan musnah dan ditinggalkan oleh pengikutnya. (Rohimin dkk, Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia, 2009 : 72).

Apabila dilihat dari perspektif sejarahnya, substansi budaya Tabot itu merupakan simbolisasi dari seluruh keprihatinan sosial. Pengulangan drama tragedi Karbala yang ditampilkan lewat tradisi perayaan Tabot sesungguhnya mewakili keprihatinan sosial saat peristiwa itu terjadi.

Tragedi Karbala yang menyebabkan ratusan orang meninggal termasuk perempuan dan anak-anak adalah potret dimana kekejaman dengan motif politik dibungkus agama dipraktekkan tanpa pelakunya merasa bersalah.

Tentu masyarakat sekarang dapat mengambil hikmah dan pelajaran penting dari peristiwa Karbala tersebut.

Dengan demikian, sebagai produk budaya manusia secara tidak langsung lewat tahapan-tahapan prosesi yang ada itu, perayaan Tabot juga mengusung simbol-simbol solidaritas sosial atau merupakan simbolisasi kearifan sosial yaitu sebuah praktek saling hormat-menghormati, tolong menolong dan toleransi.

Hal ini dapat terlihat sebelum dan selama hari pelaksanaan upacara, di sejumlah kampung tempat Keluarga Tabot (keturunan Imam Senggolo) bermukim, mereka saling membantu dalam mengerjakan bangunan Tabot, dalam suasana akrab.

Bahkan tidak hanya mereka yang keturunan keluarga Tabot saja yang turut berpartisipasi dalam pembuatan Tabot, ambil contoh di Kelurahan Teluk Sepang Kecamatan Kampung Melayu sebelah selatan Kota Bengkulu yang berjarak sekitar 26 km dari Pusat Kota Bengkulu.

Sekalipun di Kelurahan Teluk Sepang sudah bermukim beragam suku seperti Minang, Melayu, Batak namun setiap tiba waktu perayaan Tabot masyarakat Kelurahan Teluk Sepang sibuk mempersiapkan Tabot guna memeriahkannya. Wilayah Teluk Sepang merupakan pemukiman baru, yang disiapkan pemerintah pada tahun 1998.

Partisipasi masyarakat luas juga terlihat pada ritual yang disebut dengan Meradai yang artinya meminta sumbangan sukarela dari rumah ke rumah, dana yang terkumpul akan dipergunakan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.

Para pengumpul dana terdiri dari anak-anak berumur 10-12 tahun. Anak-anak ini disebut dengan Jola, kegiatan ini dilaksanakan tanggal 6 Muharram dimulai pukul 07.00-17.00, orang-orang yang lewat-pun menyumbang secara sukarela.

Hal ini menunjukkan, bahwa ritual Tabot didukung oleh semua elemen masyarakat Bengkulu tanpa membeda-bedakan suku, agama dan ras. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya keterlibatan masyarakat yang non muslim dalam menyukseskan perayaan Tabot, karena mereka menyadari ritual Tabot bukan hanya milik orang Melayu muslim Bengkulu saja, melainkan semuanya merasa memiliki.

Pada saat festival Tabot tahun 2010, etnis Tionghoa menyumbangkan sebuah pertunjukkan warisan leluhur mereka yaitu Barongsai.

Memang tradisi memberikan sumbangan melalui ritual Meradai yang dilakukan oleh anak-anak yang disebut Jola saat ini tidak lagi sama dengan kondisi dulu.

Tradisi Meradai selain bermaksud secara langsung dari rumah-kerumah memberitahu kepada publik bahwa perayaan Tabot sudah datang, juga memiliki latar-belakang agar masyarakat luas memberi dukungan khususnya materi untuk biaya penyelenggaraan perayaan Tabot.

Namun kondisi saat ini tentu saja berbeda, pemberitahuan atau lebih tepatnya pengumuman bahwa perayaan Tabot telah tiba lebih efektif menggunakan media cetak dan elektronik.

Pun demikian pula dengan sumbangan, dulu perayaan Tabot hanya sebuah acara kecil namun sekarang berubah menjadi sebuah acara besar, maka pembiayaannya tentu tidak bisa hanya dengan mengandalkan penggalangan dana-dana publik melalui ritual Meradai.

Subsidi dari pemerintah bukanlah bermaksud untuk menjauhkan keikutsertaan masyarakat umum dalam turut membantu biaya penyelenggaran Tabot, namun merupakan bentuk tanggung-jawab pemerintah dalam rangka menjaga keberlangsungan tradisi Tabot ini.

Namun tradisi Meradai tidak dapat ditinggalkan sekalipun hanya sedikit sumbangan publik yang didapat dari ritual Meradai itu. Karena Meradai juga memiliki dimensi untuk melatih dan mengasah kepekaan masyarakat umum dalam upaya turut serta memberikan dukungan pada perayaan ini.

Anak-anak kecil yang disebut Jola sebenarnya juga merupakan simbol anak-anak yatim piatu yang orang tuanya gugur dalam tragedi Karbala. Dengan demikian masyarakat juga didorong untuk peduli pada kehidupan anak-anak yatim piatu dilingkungan sekitarnya.

Dalam perjalanannya melalui proses asimilasi, akomodasi dan interaksi budaya yang cukup intens antara ritual Tabot yang bernuansa Syi’ah dengan budaya-budaya lokal Bengkulu, maka Tabot mengalami metamorphose budaya.

Makanya walaupun awalnya Tabot digelar dalam kerangka melaksanakan tradisi Syi’ah sebagai faham/ideologi tetapi berubah menjadi sebuah kearifan lokal atau sekedar sebagai praktik Syi’ah kultural.

Dalam konteks ini perayaan upacara Tabot bukan lagi dipandang sebagai praktek faham dan ideologi keagamaan, tetapi lebih dimaknai sebagai tradisi.

 

Dari Ritual Menjadi Festival Tabot

Dalam perayaan Tabot di Kota Bengkulu terdapat dua kegiatan, yaitu kegiatan utama atau kegiatan pokok yang sifatnya ritual dan kegiatan non ritual yang sifatnya kegiatan tambahan atau kegiatan pendukung.

Kegiatan ritual perayaan Tabot murni hanya dilaksanakan oleh panitia yang dikoordinir oleh Kerukunan Keluarga Tabot (KKT).

Kegiatan ritual adalah keseluruhan rangkaian upacara dimulai dari Do’a Mohon Keselamatan, Mengambil Tanah, Duduk Penja, Malam Menjara, Meradai, Arak Penja atau Mengarak Jari-jari, Arak Seroban, Hari Gam, Tabot Naik Pangkek, Arak Gedang, Soja, Arak Gedang Tabot Tebuang, Mencuci Penja yang secara lengkap sudah penulis paparkan pada Bab sebelumnya.

Kegiatan non ritual dikoordinir oleh pemerintah dalam hal ini oleh Pemerintah Propinsi Bengkulu bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Pariwisata.

Kegiatan non ritual ini antara lain terdiri dari : bazar, pameran, pentas-seni budaya, seminar budaya, pawai budaya, lomba dan sebagainya.

Sementara itu, kabupaten lain yang ada di Propinsi Bengkulu juga dilibatkan tetapi keterlibatan masih terbatas hanya dalam pembukaan acara, pawai Tabot pembangunan atau pengisian stand pameran dan bazar.

Kalaupun saat ini kegiatan non ritual seperti bazar, pameran, pentas-seni budaya, seminar budaya, pawai budaya ataupun lomba terlihat lebih menonjol, hal itu dikarenakan alasan sebagai berikut :

Kegiatan non ritual ini berlangsung selama 10 hari sehingga dapat menarik keinginan masyarakat secara luas untuk turut menyaksikan atau mengunjungi arena festival Tabot.

Kegiatan non ritual diisi dengan kegiatan yang lebih menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akan hiburan dan ajang untuk membeli kebutuhan dengan harga yang relatif terjangkau yang tidak tersedia di luar musim Tabot.

Kegiatan non ritual ini juga menjadi media bagi komunitas masyarakat di luar keluarga Tabot untuk turut serta berpartisipasi menampilkan identitas kebudayaannya masing-masing dalam pentas seni-budaya yang disiapkan oleh panitia.

Kegiatan non ritual diadakan hampir selama 24 jam khususnya kegiatan bazar dan pameran sehingga masyarakat memiliki cukup banyak waktu untuk menyaksikannya. Berbeda halnya dengan kegiatan ritual yang sudah ditentukan jadwal-jadwal serta prosesinya.

Kegiatan non ritual memang sudah ada sejak lama, sejalan dengan ritual perayaan Tabot diadakan, walaupun dulu awalnya tanpa dukungan penuh dari pemerintah.

Pada mulanya kegiatan bazar, pameran, pentas-seni budaya, seminar budaya, pawai budaya ataupun lomba masih dalam skala yang kecil dan sederhana karena hanya dilaksanakan berdasarkan inisiatif dari masyarakat saja.

Berbeda halnya dengan kegiatan non ritual saat ini yang telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

Penulis : Alumni program S2 Study Konflik dan Perdamaian Univ. Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Leave a Reply