Aspidsus: Penyusunan Raperda Air Limbah BU Korupsi Berencana

0
78

BengkuluKito.Com, – Asisten tindak pidana khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu, Henri Nainggolan menyatakan, kasus dugaan korupsi Penyusunan Raperda Air Limbah Domestik di Kabupaten Bengkulu Utara (BU) adalah kasus korupsi yang sudah direncanakan.

Menurutnya, mulai dari awal perencanaan anggaran kegiatan penyusunan Raperda ini sudah kelihatan aneh. Dan persis dengan kasus sosialisasi pajak DPPKAD Kota Bengkulu yang pernah ditangani penyidik Sebelumnya, anggaran yang dicairkan semuanya fiktif.

“Anggaran dicairkan, tetapi tidak digunakan untuk kegiatan penyusunan Raperda itu. Anggaran yang diusulkan pun tidak sesuai dengan biaya penyusunan Raperda,” kata Henri di Kantor Kejati Bengkulu, Kamis (6/9/2018).

Diungkapkannya, sesuai dengan pengakuan tersangka Azwar selaku Satker merangkap PPK utusan Kementerian PU. Setelah anggaran kegiatan penyusunan Rapareda itu diusulkan Rp 400 juta lebih dan ditandatangani kontrak oleh PT SKA selaku pemenang lelang kegiatan. Dia (Azwar) minta kepada PT SKA agar dia yang mengerjakan kegiatan tersebut, sementara untuk pencairan dilakukan oleh PT SKA.

“Setela uang itu dicairkan oleh PT SKA, Adi Argahsopa selaku pemodal PT SKA yang juga sudah ditetapkan sebagai tersangka, memerntahkan pihak PT SKA supaya uang yang dicairkan diberikan kepada Azwar,” terangnya.

Ditambahkan Henri, sebelum uang yang sudah dicairkan itu diberikan oleh PT SKA, tersangka Azwar sudah lebih dulu melakukan penyusunan Raperda tersebut. Penyusunannya dilakukan oleh salah seorang dosen yang memiliki ahli dibidangnya. Dosen tersebut dibayar oleh tersangka Azwar Rp 40 Juta.

“Memang ada kegiatan itu, dan Raperdanya juga ada. Tetapi anggaranya tidak memcapai Rp 400 Juta lebih, uang Rp 150 Juta cukup untuk menyusun Raperda tersebut,” ungkapnya.

“Kita penyidik dan jaksa berasumsi, bahwa dari awal usulan anggaran Raperda ini sudah ada niat tersangka ini melakukan perbuatan melawan hukum. Karena uang Rp 40 juta yang diberikan kepada dosen itu uang Azwar sendiri, kan aneh. Modus korupsinya ini sudah direncanakan sejak usulan anggaran,” demikian Henri. (CW3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here