Kabid Statistik BPS: Aneh, Pengangguran Tertinggi Itu Sekolah Kejuruan

0
25

BengkuluKito.Com, – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menyatakan ada keanehan di Provinsi Bengkulu, lantaran lulusan sekolah kejuruan itu justru tingkat penganggurannya tertinggi.

Kata Kabid Statistik Sosial BPS Provinsi Bengkulu, Duaksa Aritonang, itulah potret pengangguran di Bengkulu, terkadang kejuruan atau keahlian yang dibutuhkan berbeda dengan yang tersedia di daerah. Itulah yang menyebabkan tingkat pengangguran tinggi.

“Kenapa SMK itu tingkat penganggurannya sampai 5,6 persen, karena kadang-kadang kejuruan yang dibutuhkan tidak sama dengan yang diproduksi. Contohnya, Provinsi Bengkulu membutuhkan kejuruan yang ahli mesin atau ahli tanah, tetapi sekolah kejuruan kita menghasilkan kejuruan ekonomi atau kesehatan,” paparnya, Rabu (5/9/2018) di ruang kerjanya.

Kemudian, sambung Duaksa, orang yang sekolah diplomat atau juga kejuruan itu ada gengsi, yang menyebabkan dia menganggur.

“Ada permintaan terhadap tenaga kerja tetapi tidak pas jurusan atau keahliannya,” ujarnya.

Contohnya, lanjut Duaksa, misalkan yang dibutuhkan itu tukang pangkas tapi yang ada tukang aduk lumpur. Bagaimana itu? Tidak pas, tidak cocok kan. Akhirnya ia menganggur,” ucapnya.

Jadi setiap daerah itu harus mempelajari, baik bupati, walikota maupun gubernur. Dilihat daerah itu apa yang tumbuh industrinya? “Kalau itu industri, pasti saya bangun sekolah kejuruan STM jurusan mesin. Kalau saya bangun jurusan kesehatan atau sekolah kebidanan ya tidak bisa, itulah yang sering membuat jadi menganggur,” terangnya.

Masih menurut Duaksa, di Provinsi Bengkulu ini ada keanehan, justru tingkat pengangguran yang tinggi itu sekolah kejuruan. Logikanya, orang yang sekolah kejuruan itu lebih banyak yang tidak menganggurnya.

“Sebenarnya itu, logikanya lulusan SMA yang banyak menganggur, tapi ini justru sekolah kejuruan,” ungkapnya.

Ditambhakan Duaksa, kebanyakan yang lulusan diploma itu sudah tidak mau lagi kerja-kerja kasar seperti mengaduk-aduk semen. Orang yang sudah sarjana dan masih mau mengaduk-aduk semen itu mereka yang sudah tidak punya pilihan lagi dihidupnya. Selagi orang tuanya masih mampu membiayai, pasti mereka tidak mau lagi kerja-kerja kasar.

Kalau tingkat pengangguran di Bengkulu ini sebenarnya sudah termasuk kecil 2,7 persen, bagus itu. Kalau masih mau diturunkan, berarti pemerintah harus membuka peluang kerja. Artinya, kalau membangun sarana dan prasarana bangunan, maka orang yang belum bekerja atau menganggur itu bisa bekerja di sana, apakah itu mengaduk semen atau mengantar barang. Itu namanya membuka kesempatan kerja. Bisa juga membuka kesempatan kerja itu dibidang perdagangan dan lainnya.

“Dimana pun negara di dunia ini tidak akan mungkin bisa menghapus pengangguran, apalagi sampai nol persen. Nggak ada itu. Yang kita harapkan itu sedikit pengangguran dan banyak bekerja kan? Maka sekarang itu yang perlu difikirkan upah tenaga kerja dan ditingkatkan,” tutupnya. (CW2)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here