Faktor Gengsi, Pengangguran Lulusan Diploma Terbanyak di Bengkulu

0
112

BengkuluKito.Com, – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengaguran di Provinsi Bengkulu pada tahun 2018 yakni 2,7% (27.944 orang) dari 1.413.383 orang penduduk usia kerja yang dibagi dalam kategori Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut pendidikan. Pengangguran terbanyak lulusan Diploma.

Kata Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Provinsi Bengkulu, Duaksa Aritonang, kondisi pengangguran di Februari 2018 itu 2,7 persen. Artinya dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Bengkulu mengalami penurunan dari 2,81 persen di tahun sebelumnya.

“Ternyata, di Provinsi Bengkulu untuk Tahun 2018 yang paling banyak menganggur itu Diploma III sebesar 11,85 persen. Pengangguran yang tertinggi kedua adalah sekolah kejuruan atau SMK 5,61 persen. Ketiga adalah universitas 4,51 persen, SMP 2,96 persen dan SMA 2,14 persen, Paling sedikit menganggur adalah SD 1,30 persen,” ucapnya, Selasa (4/9/2018), di Kantor BPS Provinsi Bengkulu.

Dijelaskan Duaksa, alasan yang tidak tamat SD kebawah penganggurannya sedikit karena mereka tidak memilih pekerjaan.

“Yang sarjana pilih-pilih kerja atau gengsian. Disini buktinya, yang paling banyak menganggur itu Diploma,” ungkapnya.

Setelah dilakukan survey, sambung Duaksa, lulusan diploma dan perguruan tinggi itu banyak menganggur karena menurut mereka tidak sesuai lagi pekerjaan itu dengannya. Mereka memilih menganggur dari pada bekerja. Mereka mencari terus pekerjaan yang cocok untuknya.

Ditambahkannya, konsep BPS itu kalau orang kerja 1 jam setiap hari saja itu sudah tidak menganggur namanya. Jadi Penduduk itu dibagi dua kategori, yakni angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja ini adalah orang-orang yang berusia 15 tahun keatas. Bukan angkatan kerja itu dibagi menjadi yang bekerja dan pengangguran.

Jangan samakan persepsi orang menganggur dengan konsep internasional. Lanjut Duaksa, BPS bekerja itu dengan menggunakan konsep internasional. Jika ada seseorang itu setiap hari satu jam saja bekerja dan besok satu jam lagi dan seterusnya, dimata orang lain itukan pengangguran, kalau BPS itu sudah bekerja. Makanya itu angka jumlah pengganggurn kecil 2,7 persen.

Misalkan ada seseorang yang tamat kuliah kemudian karena belum ada pekerjaan dia pergi ke pasar sambil bekerja sebagai tukang parkir selama satu jam, lalu besoknya seperti itu lagi selama satu jam. Dia tidak pengangguran namanya.

“Kadang orang berfikir yang berjualan sayur di pasar dan buruh itu dianggap pengangguran, padahal itu bukan pengangguran lagi namanya, itu sudah kerja. Kita tidak melihat seberapa banyak uang yang dihasilkan, bukan itu yang kita lihat. Dia bekerja ada hasilnya, mau itu digaji Rp. 5 ribu atau 10 ribu, itu tetap orang kerja namanya. Begitulah konsepnya, tidak membandingkan angka,” paparnya.

Masih menurut Duaksa, konsep orang bekerja itu satu jam saja setiap hari itu sudah tidak menganggur lagi. Karena ada orang yang hanya bekerja satu jam itu menghasilkan puluhan juta, seperti di Bursa Efek.

“Artinya penghasilan itukan tidak ditentukan oleh lamanya bekerja, tetapi soal skill atau keterampilan. Makanya kita mengukur tidak dari penghasilannya, tetapi bekerja atau tidak. Itu saja ukurannya, satu jam saja pun boleh,” tutupnya. (CW2)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here